• Search
  • Menu

Dr Sri Damayanti Manullang Bergelut di Dunia Intelijen Ekonomi

| Senin, 09 Februari 2015 - 09:31 WIB | 2927 Views



Dalam menghadapi persaingan regional dan global melalui pasar bebas perlu dikembangkan indstri yang berbasis lokal atau regional melalui intelijen ekonomi ....

Dr Sri Damayanti Manullang menyerahkan buku kepada wartawan baranews.co, Syaiful W. Harahap (baranews.co/Ivan Roy Hutapea).


 


Oleh Syaiful W. Harahap – baranews.co


Mendengar atau membaca kata intelijen tentulah pikiran banyak orang akan langsung tertuju kepada kegiatan rahasia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), misalnya, disebutkan bahwa intelijen adalah orang yang bertugas mencari (meng-amat-amati) seseorang; dinas rahasia.


Tapi, dalam konteks ekonomi intelijen sama sekali tidak terkait dengan kegiatan rahasia karena intelejen dalam bidang ekonomi adalah upaya untuk menggali potensi suatu negara, wilayah, kawasan atau regional untuk dikembangkan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Itulah yang menjadi bidang studi Dr Sri Damayanti Manullang mulai dari S2 sampai S3. Dengan latar belakang pendidikan sastra Perancis di IKIP Negeri Medan, Sumut (lulus tahun 1993), tidak sulit bagi Sri untuk menimba ilmu di Perancis untuk meraih S2 dan S3.


Tapi, Sri mengaku tidak pernah membayangkan akan menggeluti bidang itu karena, “Untuk ke Prancis pun tidak pernah saya bayangkan ketika di SMA,” kata Sri sambil membayangkan ketika dia melihat gambar Menera Eiffel di buku pelajaran bahasa Perancis. Sri menyelesaikan pendidikan SD, SMP, dan SMA di Narumonda, dulu masuk Kabupaten Tapanuli Utara, sekarang ada di Kabupaten Tobasa (Toba Samosir) di Sumatera Utara.


Sastra Perancis


Ketika di SMA Sri mengaku tidak menguasai matematika sehingga dia memilih jurusan IPS di kelas dua. “Ya, saya minta ke IPA juga pasti dimasukkan guru ke IPS,” kenang Sri. Di sinilah awal mulanya Sri tertarik mempelajari Bahasa Prancis, “Bahasa Prancis itu aneh dan khas,” kata Sri di coffee shop sebuah apartemen di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan (29/1-2015), sambil menguapkan beberapa kata bahasa Preancis. Ibunya sendiri adalah seorang guru Bahasa Indonesia di SMP di kampungnya.


Ketika lulus dari IKIP Sri sama sekali tidak pernah berpikir dan membayangkan akan kuliah di Prancis. Yang dia ingat waktu itu dia sangat takjub melihat gambar Menara Eiffel. Setelah lulus dari IKIP di Medan Sri ke “merantau” ke Jakarta. Dia pergi ke Kedubes Prancis untuk lebih mengenal Prancis. Lagi-lagi, “Saya belum terpikir untuk ke Prancis,” ujar Sri. Tapi, ketika di SMA dia pernah berangan-angan  akan bepergian ke banyak negara, tentu saja termasuk Prancis.


Di Jakarta Sri kerja di Yayasan Soposurung sambil memberikan les privat Bahasa Prancis. Sri bekerja di yayasan itu selama dua tahun yaitu 1993-1994. Uang yang dia peroleh ditabung. Untuk apa, Sri? “Ya, saya mau jalan-jalan ke Prancis,” ujarnya.


Rupanya, “bakat” bisnis Sri sudah diasahnya sejak kelas 5 SD. Waktu itu Sri berjualan es sampai lulus SMP. “Wah, es buatan ibunya paling enak,” kata Sri mengenang masa-masa kecilnya di desa.


Tawaran untuk jadi PNS tidak menarik bagi Sri. Bahkan, tawaran untuk jadi presenter di TVRI pun tidak menarik baginya. Itulah sebabnya dia memilih kerja di yayasan dan jadi guru les privat.


Selama di Jakarta Sri dua kali pergi ke Kedutaan Besar Perancis di Jakarta. Lagi-lagi dia tidak mencari jalan agar bisa ke Perancis, tapi dia ke sana hanya ingin membaca dan mencari informasi tentang Perancis. Cuma, pada kunjungan kedua Sri ditolak masuk karena dia tidak mempunyai KTP.


Niatnya untuk bepergian ke luar negeri pun kesampaian karena ada bantuan dari keluarga untuk ongkos dan biaya hidup di Paris. Tahun 1995 Sri terbang ke Paris. Selama enam bulan di Paris Sri bekerja serabutan sambil memperdalam bahasa Prancis karena dia ingin kuliah di sana.


Biar pun Sri lulusan sastra Perancis dia justru tidak tertarik melanjutkan pendidikan di bidang itu. Sri pun mengajukan lamaran untuk memperoleh bea siswa ke tiga perguruan tinggi di Perancis bagian Selatan karena biaya hidup di sana lebih murah daripada di Paris. “Tiga-tiganya diterima,” kata Sri, anak ketiga dari empat bersaudara ini


Tapi, akhirnya Sri memilih Universitas Marseille, sebuah universitas riset di Perancis bagian Selatan karena bidang studi yang ditawarkan universitas itu sangat menantang bagi Sri yaitu technology watch dan competitive intelligence. Sri menyelesaikan gelar master dengan gelar DEA (diplome etude approfondies) dalam bidang tsb. tahun 2000-2001.


Disertasi Sri tentang atap yang terbuat dari kertas dan aspal. Penelitiannya sampai ke Indonesia. Sri menemukan atas itu tidak laku di Indonesia karena mahal. Padahal, atap itu tahan terhadap dorongan angin dengan kecepatan 200 km/jam.


Selesai master Sri pun ‘balik’ ke Tanah Air. Sri berharap intelijen ekonomi bisa dikembangkan di Indonesia karena Perancis bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi tahun 1980-an di masa Presiden Francois Mitterand karena negeri itu membentuk satuan intelijen ekonomi. Waktu itu industri di Perancis collapse akibat serbuan produk-produk dari Asia yang meningkatkan pengangguran yang pada gilirannya mengganggu stabilitas ekonomi Perancis.


Berdasarkan hasil intelijen ekonomi kajian pemerintah Perancis kemudian mengembangkan industri regional yang bertumpu pada sumber daya alam region tsb. Artinya, industri dikembangkan dengan bahan baku dan sumber tenaga yang tersedia. Dengan langkah ini Perancis kembali menjadi salah satu negara pengekspor di kawasan Eropa.


Hak Paten


Langkah Sri adalah membuka program studi bidang intelijen ekonomi di kampus. Berkat kontak dengan teman-temannya di Univesitas Negeri Manado (d/h IKIP Negeri Manado) dibukalah jurusan intelijen ekonomi. Program S2 ini berjalan dari tahun 2003 sampai 2008. Biar pun lulusan program itu ada 100, tapi Sri kecewa berat karena, “Aplikasi ilmu yang mereka peroleh hanya untuk mendapatkan gelar,” kata Sri dengan pelan sambil menarik napas.


Misalnya, kata Sri, penggemar warna biru ini, tugas yang dibebankan kepada mahasisa adalah mencari berbagai kemungkinan yang bisa dikembangkan dari kelapa. “Soalnya, di Sulut kelapa melimpah-ruah,” ujar Sri sambil memandang jauh ke depan. Lagi-lagi Sri mengaku kecewa karena yang diperoleh mahasiswa hanya menemukan makanan, seperti kue. “Ah, tanpa master intelijen ekonomi pun kue sudah ada sejak zaman dahulu,” kata Sri kali ini dengan nada tinggi.


Sri menunjukkan data berupa jumlah hak paten sampai tahun 2003 yang berasal dari kelapa. Ada ribuan. Tapi, satu pun tidak ada dari Indonesia. Sedangkan dari Filipina, juga penghasil kelapa, banyak paten terkait kelapa. Yang paling banyak adalah paten turunan kelapa yang didaftarkan di Eropa Barat dan Amerika Serikat.


Nah, yang diharapkan Sri adalah mahasiswa yang mengerjakan penelitian untuk karya tulis kelulusan adalah mencari peluang pengembangan kelapa berdasarkan paten yang sudah ada. Misalnya, ada satu paten tentang air kelapa yang jadi bahan dasar tissu untuk mamalia. “Hak Paten yang sudah lewat 20 tahun sudah jadi hak publik,” kata Sri sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke kertas yang bergambar grafik paten dunia terkait kelapa.


Itulah al. yang dimaksudkan Sri sebagai aplikasi intelijen ekonomi. Sayang, 100 mahasiswa yang sudah menyandang gelar S2 intelijen ekonomi itu sama sekali tidak bisa diandalkan. Itu pulalah yang membuat Sri kecewa. “Butuh waktu lama untuk mengatasi kekecewaan saya,” ucap Sri yang menjalani hidup LDR (long distance relationship) karena suaminya, laki-laki Italia, ahli IT, ada di New York, AS.


Koq harus dengan ‘bule’, Sri? “Saya ingin suami yang lebih pintar daya saya,” ujar perempuan yang gemar menonton film romantis dan mendengar lagu-lagu Perancis ini. Romantisme Sri diungkapkannya melalui novel “Everything is Alright” (EnsiPedia, Yogyakarta, 2014). Misalnya, kenangannya ketika harus meninggalkan pesta pertunangannya dengan pria Perancis karena dia lebih mementingkan aplikasi ilmunya yaitu dengan menjadi anggota sebuah parpol di Indonesia.


“Saya melihat parpol bisa sebagai ‘perahu’ untuk menggolkan intelijen ekonomi sebagai bagian dari pembangunan nasional,” ujar Sri sambil menuangkan air teh ke cangkirnya. Yang dia peroleh tidak seindah yang diharapkannya karena semua kandas. Dua kali dia menjadi caleg (calon anggota legislatif), dua-duanya ‘gatot’ alias gagal total.


Dia memilih parpol karena pengalamannya ‘memakai’ perguruan tinggi untuk menjalankan misinya juga gagal total yaitu di Universitas Manado. Tak satu pun dari 100 mahasiswa yang bisa mendapatkan hasil yang komprehensif dari ‘penyelidikan’ mereka terkait dengan produk yang bisa dikembangkan dari kelapa.


Go Jumping


Sri mengingatkan orang-orang di Sulut yang memakai pohon atau batang kelapa untuk membuat rumah, bahkan diekspor, bisa menghabiskan kalapa karena pohon kelapa ditebang sedangkan penamaman baru tidak sejelan dengan penebangan. Misalnya, tidak ada ketentuan berupa regulasi jika 1 pohon kelapa ditebang, maka wajib ditanam sekian bibit kelapa.


Kalau intelijen ekonomi dijadikan acuan, misalnya melihat kondisi industri, maka amatlah tidak layak membangun pabrik baja dengan bahan baku impor. Pengalaman penulis ketika menulis laporan scrapping kapal-kapal tua di Tegal, Jateng (1984) untuk Tabloid “Mutiara” ternyata potongan-potongan kapal tua itu akan dibawa ke Cilegon,  Banten (d/h. Prov Jawa Barat) melalui jalan darat. Mengapa tidak ‘dirajang-rajang’ di Banten? Rupanya, ahli ‘rajang’ besi tua al. orang Tegal karena di sana terkenal industri logam rumahan.


Sri juga kecewa karena jumlah paten di Indonesia sangat sedikit. Itu bisa juga berarti inovasi yang rendah. Selain paten yang rendah standar kelas internasional yaitu ISO yang dikeluarkan oleh International Organization for Standardization yang bermarkas di Swiss juga amat sedikit. Itu artinya persaingan produk dan jasa Indonesia akan kalah bersaing di pasar bebas global atau regional.


Salah satu ‘jalan pintas’ untuk memproduksi barang-barang yang bisa bersaing di pasar global, menurut Sri, adalah memakai alur ‘go jumping’ yaitu memanfaatkan hak paten yang sudah kadaluarsa yang bisa dijalankan di Indonesia. Tentu saja dengan bahan baku yang tersedia dan jalur pemasaran yang global. Cara ini dijalankan beberapa negara di Asia sehingga mereka bisa mengalahkan pabrik atau merek ternama.


Sri menulis dua buku bersama profesor pembimbingnya (Henry Jean-Marie DOU), yaitu (1) Competitive IintelligenceTechnology Watch and Regional Development diterbitkan oleh French-Indonesia, MUC Publishing 2006), dan (2) Competitive Intelligence, Technology Watch for Indonesia ini juga bersama Henry dan Jean-Marie DOU, Jr diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Departemen Perindustrian, CI Worldwide Organization (2006).


Selain berharap bisa dengan memakai parpol sebagai ‘perahu’, Sri juga sudah menyampaikan buah pikirannya tentang intelijen ekonomi ini ke presiden melalui kerabat presiden. “Ya, tetap saja tidak berhasil,” ujar Sri dengan pelan yang mengaku ‘menyesal’ tidak menerima tawaran jadi pengawai negeri sipil (PNS) ketika baru lulus IKIP.


Kenapa, menyesal, Sri? “Ya, banyak yang kuliah di Perancis ternyata PNS mereka mendapat bea siswa,” kata Sri. Maklum, untuk ke Perancis saja Sri harus banting tulang mengumpulkan uang al. memberikan les privat bahasa Perancis. Di Paris pun Sri harus bekerja untuk kebutuhan hidupnya dalam menyiapkan diri mengajukan bea siswa.


Tapi, Sri mengaku tidak akan berhenti karena dia sedang menyiapkan semacam lembaga pendidikan untuk menyebarkan ilmunya yaitu competitive intelligence yaitu Institut Intelijen Ekonomi. Melalui institut ini Sri berharap bisa mencetak kader-kader intelijen ekonomi yang bisa membaca kekayaan alam yang layak dikembangkan dengan hasil produksi yang bisa bersaing di pasar global.


Sebagai perempuan Batak, koq, namamu tidak mencerminkan nama orang Batak?


“Saya marah besar ketika guru mengatakan nama saya, Nauli Duma, tidak ada dalam daftar murid baru di SMP Negeri Narumonda,” kata Sri mengenang peristiwa itu. Soalnya, semua murid baru bergilir berdiri di depan kelas memperkenalkan diri.


Rupanya, sejak kecil Sri dikenal di kampung dengan nama panggilan Duma, bahkan sampai SMA pun dia tetap dipanggil Duma di lingkungan kampungnya. Waktu perkenalan murid baru secara bergiliran mereka maju ke depan dan menyebutkan nama. Ketika itulah Sri menyebut namanya sebagai Sri Damayanti.


Ternyata, sejak masuk SD nama di buku besar dan rapornya adalah Sri Damayanti. Tapi, Sri mengaku tidak memperhatikan namanya di buku absen dan rapor. “Saya pun tidak sempat bertanya kepada Bapak mengapa nama saya Sri Damayanti,” ujar Sri dengan terbata-bata. ***