• Search
  • Menu

Kedekatan PDIP-Nasdem Dinilai Bisa Tentukan Arah Perpolitikan Nasional

| Senin, 25 November 2013 - 01:59 WIB | 1511 Views



Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kanan) didampingi Ketua DPP PDIP Puan Maharani (tengah) menerima Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kiri) di Lenteng Agung, Jakarta, Kamis (21/11). Pertemuan kedua tokoh politik tersebut membahas sejumlah permasalahan bangsa dan pemilu tahun 2014.

Pertemuan kedua orang nomor satu dari dua partai ternama, yaitu PDIP dan Nasdem, yang berlangsung secara tertutup pekan lalu, telah memunculkan beberapa sinyalemen.

Jakarta, baranews.co - Pertemuan kedua orang nomor satu dari dua partai ternama, yaitu PDIP dan Nasdem, yang berlangsung secara tertutup pekan lalu, telah memunculkan beberapa sinyalemen.


Lantaran itu pula agaknya, pengamat politik dan peneliti senior The Indonesian Institute, Hanta Yuda, berpandangan bahwa pertemuan Lenteng Agung itu menunjukkan kemungkinan koalisi cukup besar. Hal itu karena, menurut Hanta, sudah ada tiga syarat koalisi yang bisa dipenuhi oleh kedua partai tersebut.


Tiga syarat itu adalah kedekatan ideologi partai, kedekatan tokoh dan elite partai, serta adanya figur dengan magnet elektoral yang kuat. Dijelaskan Hanta, di level kedekatan ideologi, Nasdem dan PDIP dikenal sama-sama merupakan partai nasionalis.


Lebih dari itu, tokoh dan elite kedua partai, menurut Hanta lagi, juga memang sudah dikenal dekat sejak dulu. Surya Paloh adalah juga sahabat almarhum Taufiq Kiemas, suami Megawati. Sementara, soal figur dengan magnet elektoral yang kuat, Hanta menyatakan bahwa jika PDIP mengusung Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres, akan membuka peluang lebih besar bagi Nasdem untuk memberikan dukungan.


Lain lagi pendapat dari pengamat psikologi politik, Prof Hamdi Muluk, yang mengatakan bahwa terdapat agenda yang cukup serius yang disiapkan oleh kedua partai tersebut. Hal itu menurutnya karena pertemuan Lenteng Agung melibatkan elite tertinggi kedua partai dan berlangsung secara tertutup.


"Dalam etika politik, jika seseorang telah dipersilakan datang di situ, ada makna yang cukup besar. Ibarat sebuah rumah, PDIP telah mempersilakan Nasdem masuk ke halamannya," ujar Hamdi yang juga adalah Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, di Jakarta, Minggu (24/11).


Ketika ditanya soal peluang koalisi, Hamdi menyatakan bahwa memang koalisi antara kedua partai masih jauh. Tetapi yang tersirat dari pertemuan kemarin menurutnya adalah kedua partai memiliki ambisi yang sama untuk pemilihan presiden. Dia menggarisbawahi bahwa koalisi hanya akan terjadi di pemilihan presiden (Pilpres), sementara saat pemilihan legislatif (Pileg) semua partai politik akan berjuang sendiri-sendiri.


"Politik itu cair. Semua kemungkinan selalu terbuka, hingga muncul hasil yang konkrit yaitu hasil Pileg," terang laki-laki yang juga ahli soal gestur politik ini. (sm/beritasatu)


Hamdi menambahkan bahwa dalam pertemuan Lenteng Agung kemarin, ada nilai lebih yang bisa didapatkan oleh Partai Nasdem, yaitu masyarakat akan melihat adanya kedekatan antara Nasdem dengan PDIP yang memiliki kemungkinan mengusung Jokowi sebagai capres.


"Jadi, Nasdem berteman dengan PDIP dan berteman juga dengan Jokowi," tutup Hamdi.