• Search
  • Menu

Pengunjuk Rasa Duduki Kantor Polisi

sm | Rabu, 04 Desember 2013 - 08:17 WIB | 790 Views



Si cantik Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra

Pengunjuk rasa anti Pemerintah Thailand, Selasa (3/12), berhasil menduduki markas Kepolisian Metropolitan Bangkok, Thailand.



BANGKOK, baranews.co — Pengunjuk rasa anti Pemerintah Thailand, Selasa (3/12), berhasil menduduki markas Kepolisian Metropolitan Bangkok, Thailand. Massa mendesak polisi mendukung perjuangan mereka menggulingkan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra.


            ”Kami sudah menduduki markas polisi hari ini. Kami minta polisi mendukung dan menghentikan tindakan mereka yang melukai pengunjuk rasa: melempar gas air mata atau tembakan,” kata Puttipong Punnakan, petinggi oposisi yang mantan pejabat Pemerintah Thailand, di atas panggung orasi di Monumen Demokrasi, Jalan Ratchadamnoen, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Elok Dyah Messwati, dari Bangkok, Thailand.


            Selasa pagi, ratusan mobil dan truk mengangkut pengunjuk rasa dari Monumen Demokrasi ke beberapa lokasi demonstrasi, termasuk ke markas kepolisian. Adapun pengunjuk rasa di Monumen Demokrasi terus bertahan duduk di bawah tenda di sepanjang Jalan Ratchadamnoen.


            Pada petang hari, suasana di Monumen Demokrasi makin meriah. Ketika rombongan pengunjuk rasa dari sejumlah lokasi demonstrasi kembali ke pusat unjuk rasa tersebut, mereka disambut sorak-sorai pengunjuk rasa lainnya.


            ”Pemerintah kami sangat buruk dan korup. Perdana Menteri Yingluck itu dikontrol kakaknya, Thaksin. Partai mereka menang karena suap, membayar orang yang bisa dibayar. Kami tidak dibayar untuk datang ke sini. Kami datang dengan hati,” kata Pittayapong Petehabamrung, salah seorang pengunjuk rasa.


            Saat Kompas mendatangi Stadion Rajamanggala, 15 kilometer dari Bangkok, terlihat stadion itu dijaga ketat polisi. Sabtu lalu terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan massa pendukung Yingluck yang berkumpul di stadion ini, yang menyebabkan empat orang tewas.


            Komandan polisi di stadion itu, Kolonel Chairat Tippayajan, mengatakan, 20.000 polisi diturunkan untuk mengamankan unjuk rasa yang telah berlangsung selama 10 hari tersebut.


”Untuk menjaga stadion ini, kami kerahkan 500 polisi. Kami berjaga sejak Sabtu lalu, saat berkumpul 130.000 pendukung Perdana Menteri Yingluck,” kata Chairat.


Namun, setelah insiden penembakan yang menewaskan empat korban, pendukung Yingluck membubarkan diri.


”Tidak ada lagi pendukung berkaus merah di sini. Stadion ini dijaga karena berbahaya. Pelaku penembakan juga belum diketahui karena saat itu sudah gelap,” ujarnya.


 Hindari bentrokan


            Polisi membiarkan pengunjuk rasa menduduki kantor polisi karena Pemerintah Thailand memerintahkan mereka menghindari bentrokan. ”Kami minta polisi mundur. Hal itu untuk menghindari konfrontasi,” kata juru bicara Pemerintah Thailand, Teerat Ratanasevi.


Polisi kemudian menyingkirkan sejumlah barikade kawat berduri.


            Kalangan internasional menyuarakan keprihatinan atas kekerasan yang terjadi dalam krisis politik di Thailand ini. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di Lima, Peru, meminta semua pihak menahan diri dan menyelesaikan krisis secara damai.


            Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI melalui Kedutaan Besar RI di Bangkok mengimbau warga negara Indonesia di Thailand menghindari lokasi yang berisiko karena unjuk rasa, seperti kawasan Monumen Demokrasi, sekitar kawasan gedung pemerintahan, kawasan Central World-Siam, Paragon-MBK, dan Universitas Thammasat.


”WNI diminta waspada, tidak keluar rumah selain untuk urusan mendesak,” demikian imbauan tersebut. (sim)