• Search
  • Menu

Presiden Assad Terlibat Kejahatan

sm | Rabu, 04 Desember 2013 - 02:04 WIB | 2504 Views



Anak-anak Suriah Sangat Menderita, Ribuan Anak Tanpa Orangtua



DAMASKUS, baranews.co — Dari bukti-bukti baru yang ditemukan di Suriah menunjukkan Presiden Bashar al-Assad dan orang-orang dekatnya terlibat dalam kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Selama 33 bulan konflik, sangat menonjol peran dan tanggung jawab kepala negara.


                Masalah itu diungkapkan Ketua HAM PBB Navi Pillay, di Geneva, Swiss. Dugaan bahwa Assad terlibat dalam kejahatan perang dan kemanusiaan muncul ketika oposisi Suriah, termasuk jihadis, mengambil alih Maaula, kota bersejarah Kristen, di utara Damaskus.


 


Sangat serius


                Sebuah penyelidikan oleh PBB terkait dengan pelanggaran HAM yang dilakukan Assad selama 33 bulan konflik telah berlangsung brutal. Pillay menjelaskan, banyak bukti memperlihatkan adanya ”kejahatan yang sangat serius, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.”


                ”Bukti-bukti memperlihatkan adanya tanggung jawab di tingkat tertinggi pemerintahan, termasuk kepala negara,” ucapnya.


                Itu adalah bukti pertama yang oleh sebuah komisi PBB secara langsung menunjukkan kuatnya keterlibatan Assad dalam kejahatan yang dilakukan selama perang saudara di Suriah. Sudah lebih dari 126.000 orang tewas selama 33 bulan perang, yang hingga kini masih berlangsung.


                Empat anggota tim investigasi PBB, yang telah menyelidiki pelanggaran HAM sejak konflik pecah, menuding rezim dan oposisi telah melakukan kejahatan perang secara bersama-sama dalam skala yang besar. Namun, untuk pertama kalinya, Assad juga disebut sebagai pelaku kejahatan.


                Dengan tidak adanya akses ke Suriah, tim penyelidik terpaksa harus bergantung pada lebih dari 2.000 narasumber di negara-negara tetangga, baik juga lewat telepon maupun Skype. Suriah saat ini negara paling berbahaya bagi para pekerja pers.


 


Mahkamah Kriminal


                Pillay mengungkapkan kepada wartawan, nama-nama yang terlibat di dalam kejahatan perang akan tetap dirahasiakan sampai ada lembaga yang kredibel untuk penyelidikan nasional atau internasional.


Dia pun mengulangi lagi seruannya agar kasus yang ada harus diserahkan kepada Mahkamah Kriminal Internasional di Den Haag, Belanda, untuk dipastikan akuntabilitasnya.


                ”Skala kekejaman dari pelanggaran yang dilakukan oleh elemen-elemen dari kedua belah pihak hampir di luar dugaan,” kata Pillay. Meskipun demikian, kubu Assad telah berulang kali menangkis tudingan yang menyebutkan rezimnya melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.


                Pillay memperingatkan, upaya untuk menghancurkan sejumlah besar senjata kimia milik Suriah tidak berarti kasus pembunuhan dilupakan. Puluhan ribu orang telah tewas dengan senjata konvensional di Suriah.


                SOHR, yang amat bergantung pada jaringan aktivis, pengacara, dan dokter di Suriah, mengatakan, pihaknya telah mencatat 125.835 kematian selama konflik sampai dengan 1 Desember ini.


Sebagian di antaranya, yakni sekitar 44.381 orang, adalah warga sipil, termasuk 6.627 anak-anak dan 4.454 wanita.


 


Ancaman kelaparan


                Penderitaan rakyat semakin parah karena lebih dari satu juta orang saat ini terancam kelaparan karena perang. Palang Merah juga mengatakan, kondisi itu bertambah buruk karena pos-pos pemeriksaan telah menutup jalur distribusi pangan yang diupayakan oleh aktivis kemanusiaan.


                Konflik yang sedang berlangsung di Suriah telah menghancurkan banyak keluarga. Mereka tercerai-berai. Masyarakat menjadi kacau-balau hingga lebih dari 2,2 juta orang terpaksa melarikan diri ke negara-negara tetangga. Anak-anak merupakan kelompok sosial yang paling menderita.


                Menurut laporan, lebih dari 70.000 anak Suriah hidup tanpa ayah di pengungsian di negara tetangga. Lebih dari 3.700 anak lagi hidup terpisah tanpa siapa-siapa, baik ayah maupun ibunya, dan tanpa sanak saudara. Nasib anak-anak ini memang sangatlah menyedihkan, menderita lahir dan batin.


                Dalam banyak kasus, ada anak yang selain tanpa orangtua juga tidak tahu di mana mereka berada. Sebagian besar lagi anak masih berada di Suriah, dan dalam kondisi yang sulit dipantau.


                ”Jika kita tidak bertindak lebih cepat, generasi orang tak berdosa akan menjadi korban abadi dari perang yang mengerikan ini,” kata Komisaris Tinggi untuk Urusan Pengungsi PBB Antonio Guterres, dalam satu pernyataan. (sm/kompas)