• Search
  • Menu

Parlemen Tolak Mosi Tak Percaya

sm | Rabu, 04 Desember 2013 - 02:14 WIB | 907 Views



Parlemen Ukraina akhirnya menolak desakan mosi tidak percaya yang diajukan kelompok oposisi terhadap pemerintahan Presiden Viktor Yanukovych.



KIEV, baranews.co — Parlemen Ukraina akhirnya menolak desakan mosi tidak percaya yang diajukan kelompok oposisi terhadap pemerintahan Presiden Viktor Yanukovych. Dalam pemungutan suara di ibu kota Kiev, Selasa (3/12), suara yang mendukung Yanukovych lebih dominan ketimbang kelompok oposisi yang mendesak sang presiden mundur.


                Di luar gedung parlemen, ribuan pengunjuk rasa penentang Yanukovych tetap bertahan dan meneriakkan yel-yel ”revolusi!”. Seperti tekad mereka sebelumnya untuk menggulingkan Yanukovych, ribuan demonstran itu tampaknya akan terus melanjutkan aksinya, terutama di sekitar Lapangan Kemerdekaan di jantung kota Kiev.


                Sebelum pemungutan suara di Parlemen, Perdana Menteri Mykola Azarov meminta maaf atas tindak kekerasan yang dilakukan polisi untuk menghalau aksi anarkistis pengunjuk rasa dalam demonstrasi yang sudah berlangsung sejak Sabtu pekan lalu.


                Tensi politik di Ukraina terus meningkat dalam sepekan terakhir setelah Presiden Yanukovych menolak menandatangani pakta perdagangan dengan Uni Eropa (UE). Penolakan Yanukovych tersebut terjadi saat UE tengah mengadakan pertemuan puncak di Vilnius, Lituania.


                Jika diteken, pakta tersebut akan membuka akses Ukraina untuk bergabung dengan UE, blok kerja sama ekonomi dan perdagangan negara-negara Eropa barat yang beranggotakan 28 negara dan menggunakan mata uang tunggal euro.


                Alasan Yanukovych, zona euro tidak memberikan janji penjaminan finansial yang akan mendongkrak ekonomi Ukraina, negara berpenduduk 46 juta jiwa yang tengah terpuruk. Yanukovych juga berargumen, pemerintahnya tak mungkin mengorbankan neraca perdagangan dengan Rusia, negara sekutu lamanya yang menentang kerja sama Ukraina dan UE.


                Para analis mengatakan, sikap Yanukovych terkait erat dengan ketergantungan yang sangat tinggi Ukraina terhadap impor gas dari Rusia. Sementara pengunjuk rasa pro-Uni Eropa berasal dari etnis yang berbahasa Ukraina dan menginginkan kedekatan dengan negara-negara barat.


                Kelompok oposisi berpendapat, tanpa kerja sama dengan UE, ekonomi Ukraina sulit keluar dari resesi. Apalagi pemerintahan Yanukovych tetap ketat dalam pemberian visa wisatawan asing. Ini membuat sektor pariwisata Ukraina tidak berkembang, padahal sangat berpotensi menghasilkan devisa.


                Setelah pecah bentrokan dengan polisi pada Minggu dan Senin, ribuan pengunjuk rasa mulai menduduki kantor-kantor pemerintah. Kelompok oposisi yang merupakan gabungan dari tiga partai politik kemudian mengajukan rancangan mosi tidak percaya kepada parlemen.


                Draf resolusi untuk mosi tidak percaya itu diusung kalangan oposisi yang salah satunya dimotori mantan juara tinju kelas berat dunia, Vitali Klitschko.


                Pihak oposisi harus mampu mengantongi 226 suara dari total 450 suara dalam parlemen jika ingin mengegolkan draf pengajuan mosi tak percaya tadi.


                Namun, dalam pemungutan suara di parlemen, kelompok penentang pemerintah hanya mampu mengumpulkan 186 suara dari 226 suara yang dibutuhkan.


                Selepas meminta maaf, PM Azarov berjanji segera menggelar sidang darurat parlemen dan merombak kabinet.


                Presiden Yanukovych, saat parlemen mengambil suara, sedang dalam perjalanan menuju China dan berencana singgah di Moskwa sebelum pulang.


 


Negara tetangga cemas


                Sementara itu, krisis yang terjadi di Ukraina telah memicu kecemasan di kalangan negara-negara tetangga anggota UE.


                Kekhawatiran terutama berkembang di sejumlah negara eks blok komunis yang kemudian masuk menjadi anggota UE.


                Presiden Polandia Bronislaw Komorowski, seperti diwartakan AFP, Selasa (3/12), membatalkan agenda pertemuannya dengan Yanukovych. Rencananya, Komorowski akan bertemu Yanukovych untuk membahas masalah perbatasan kedua negara.


                Polandia menjadi sponsor utama Ukraina untuk masuk ke UE. ”Kami akan terus memastikan pintu ke Eropa akan selalu terbuka bagi Ukraina,” ujar Komorowski.


                Kecemasan serupa disuarakan sejumlah negara di sekitar kawasan tersebut. Mereka sangat khawatir dengan perkembangan situasi yang terjadi di Ukraina.


                Utusan khusus UE Aleksander Kwasniewski menilai Yanukovych sepertinya tak akan mendengar desakan para pengunjuk rasa agar dirinya mundur.


                ”Malah sepertinya langkah lebih keras, seperti menerapkan status darurat di Kiev atau bahkan di seluruh Ukraina, akan diambil pemerintah,” ujar Kwasniewski yang juga mantan Presiden Polandia saat diwawancara stasiun radio Polandia, RMF.


                Selama ini desas-desus rencana pemberlakuan status negara dalam keadaan darurat di Ukraina memang semakin santer, terutama menyusul gerakan mogok massal di sana mulai Senin.(sm/kompas)