• Search
  • Menu

Bung Karno Ata Ende

Roso Daras | Rabu, 04 Desember 2013 - 02:48 WIB | 851 Views



Bukan hanya warisan nilai-nilai nasionalisme pada masyarakat Ende. Bukan hanya mewariskan kebanggaan tinggal di satu daerah yang terpatri erat dengan sosok Bung Karno.



JAKARTA, baranews.co - Sidang pembaca blog yang mulia, beberapa waktu lalu, saya terbenam dalam aktivitas menapak tilas Ende, Flores sekitar tiga minggu lamanya. Ada begitu banyak jejak Bung Karno yang tertapak. Ada begitu banyak langkah yang belum terjamah. Hidup di Ende sebagai seorang buangan selama 4-tahun-9-bulan, Bung Karno mewariskan banyak hal.


                Bukan hanya warisan nilai-nilai nasionalisme pada masyarakat Ende. Bukan hanya mewariskan kebanggaan tinggal di satu daerah yang terpatri erat dengan sosok Bung Karno. Bukan hanya nilai-nilai ideologi dan religi yang menjadi lentera generasi penerus.


                Untuk beberapa saat, apa pun yang menarik minat, spontan menjadi bahan tulisan, dan segera menghiasai blog ini. Tiba-tiba, terlintas pemikiran, “Mengapa tidak membuatnya menjadi buku?” Ya, tergerak hati untuk membuat buku sepulang dari Ende. Karena itu, aktivitas memposting materi tentang Ende menjadi terhenti, dan berkonsentrasi mewujudkannya menjadi buku.


                Di tengah aktivitas menyusun tulisan demi tulisan untuk materi buku, terpikir pula “alangkah baiknya kalau buku ini bisa selesai cepat, dan terbit bersamaan dengan pemutaran perdana film ‘Ketika Bung di Ende’.” Berhubung yang memungkinkan itu adalah pihak pelaksana produksi film, maka ide itu pun saya sorongkan ke mas Baskoro. Orang di balik layar yang memungkinkan produksi film itu terjadi.


                Baskoro pula yang kemudian meneruskan ide tadi ke pimpinannya, direktur PT Cahaya Kristal Media Utama (Cakrisma), pelaksana produksi film tersebut. Egy Massadiah, pimpinan sekaligus owner Cakrisma, (ndilalah….) setuju dan menyambut baik. Syahdan, Baskoro mem-follow up ke Kemendikbud, sedangkan saya harus kerja ekstra untuk menulis cepat, mengejar jadwal terbit berbarengan dengan pemutaran film, yang dijadwalkan 28 November 2013.


                Buku ini pun saya susun bersama Egy Massadiah yang juga mantan jurnalis. Kurang lebih tiga hari yang lalu, green light Ditjen Kebudayaan sudah menyala. Kata ACC dari Jusuf Kalla sebagai salah satu pemberi kata pengantar, juga sudah didapat (berkat kedekatan Egy dan JK). Mata rantai yang begitu panjang (cenderung birokratis) akhirnya terlampaui semua.


                Last minutes, lampu hijau itu menyala, dan hanya menyisakan waktu beberapa hari saja untuk mencetak. Beruntung, sejak jauh-jauh hari, saya sudah mengurus ISBN ke Perpustakaan Nasional. Sehingga satu-satunya masalah adalah bagaimana proses pencetakan bisa cepat. Ini soal teknis saja.


                Buku berjudul “Bung Karno Ata Ende” ini (ata, bahasa Flores yang berarti “saya”), berisi tiga bagian utama. Bagian pertama tentang sisi lain pembuatan film “Ketika Bung di Ende” (6 judul). Bagian kedua tentang “Romansa Ujung Dunia” (20 judul), dan bagian ketiga tentang “Ende Bumi Inspirasi” (8 judul), sehingga total buku ini berisikan 34 judul tulisan. Keseluruhan materi buku tersaji dalam buku setebal 268 halaman, plus 19 halaman daftar isi, kata pengantar Jusuf Kalla (mantan Wapres, tokoh perdamaian, penggiat ekonomi kawasan Indonesia Timur, Ketua PMI, dll), dan Prof. Kacung Marijan (Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud).


                Semoga, buku ini dapat membuka cakrawala kita lebih luas dalam memandang sejarah Sukarno, khususnya yang terkait antara Bung Karno dan masa-masa pembuangan di Ende, Flores (1934 – 1938). Sebagai penulis, saya pribadi merasa belum puas. Saya bisa pastikan, meski sudah terbukukan, tetapi serpihan-serpihan sejarah lain tentang Bung Karno di Ende, masih teramat banyak yang tercecer.


                Ya, sikap tidak puas memang harus saya pelihara. Hanya dengan cara itu, semangat kembali ke Ende, untuk menggali dan mengais serpihan-serpihan sejarah Bung Karno lainnya, tetap terjaga. Bukankah Tuhan Maha Mendengar keinginan hambanya? (roso daras)