• Search
  • Menu

Karawang-Bekasi, dari Puisi Menjadi Koran

Roso Daras | Kamis, 05 Desember 2013 - 15:14 WIB | 1112 Views



Karawang ? Bekasi, juga bermakna ribuan mayat berkalang tanah, dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan. Simak puisi Chairil Anwar

Ini adalah tentang semangat melanjutkan perjuangan para pejuang. Perwujudannya dalam bentuk menerbitkan sebuah suratkabar nasional dengan nama “Karawang Bekasi”. Nama dua kota di timur Jakarta, yang tidak sekadar bermakna dua daerah kabupaten. Karawang – Bekasi, juga bermakna ribuan mayat berkalang tanah, dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan. Simak puisi Chairil Anwar berikut ini:


Karawang-Bekasi


Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?


Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.


Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa


Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan


Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata


Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak


Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir


Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian


Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi


Chairil Anwar (1948)


Puisi di atas, menggambarkan pembantaian rakyat Karawang – Bekasi oleh tentara KNIL, tentara penjajah Belanda yang berniat merangsek kembali ke Tanah Air. Membonceng tentara NICA (tahun 1946), mereka hendak melanggengkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda, dan membunuh embrio NKRI yang baru saja diproklamasikan oleh Bung Karno – Hatta, atas nama Bangsa Indonesia.


Adalah sekelompok laskar pejuang pimpinan Lukas, yang pada malam hari menyusup ibukota dan melakukan serangan sporadis terhadap sentral-sentral tentara Belanda. Setelah berhasil menyerang, mencuri senjata, mereka melarikan diri ke arah timur, antara Karawang – Bekasi. Begitu dilakukan berkali-kali, hingga tentara KNIL murka dan melakukan sweeping ke daerah Karawang – Bekasi.


Para laskar pejuang yang dicari tidak ketemu, maka rakyat antara Karawang – Bekasi digelandang ke area terbuka kemudian diberondong senapan. Dibunuh dengan bengisnya. Yang mati tidak hanya para pemuda, tetapi juga orang tua, wanita, bahkan anak-anak tak berdosa. Peristiwa itu terjadi tahun 1947, dan kini diabadikan dalam monumen Rawagede, Karawang.


Chairil Anwar, penyair yang menyaksikan langsung ribuan mayat terkapar di sepanjang Karawang – Bekasi, lantas mengekspresikannya dalam puisi yang sangat legendaris tersebut. Puisi yang sangat menyentuh, terlebih jika kita mengenangkan peristiwa tragedi pembantaian itu. Mereka mati, tanpa pernah lagi bisa melawan. Mereka mati tanpa pernah tahu, apakah kemerdekaan akan langgeng. Mereka tidak tahu, apakah dirinya akan tinggal menjadi tulang-belulang diliputi debu, atau sebuah pengorbanan yang sepadan untuk kemerdekaan. “Kenang-kenanglah kami”, rintih para jenazah yang disuarakan Chairil Anwar.


Spirit perjuangan, spirit pengorbanan untuk kemerdekaan, telah merasuki sejumlah jurnalis, senior dan muda, untuk menghimpunkan diri dalam kerja tim menerbitkan sebuah suratkabar nasional dengan mengabadikan nama “Karawang – Bekasi”. Pemimpin Umum suratkabar itu adalah seorang nasionalis, Sukarnois asal suku Sabu, NTT, Peter A. Rohi. Sedangkan Roso Daras (ehm…) menjabat Pemimpin Redaksi. Suratkabar ini telah diluncurkan di Karawang, Kamis, 14 November 2013. Mohon doa restu. (roso daras)