• Search
  • Menu

Abbott: Australia Akan Terus Mata-matai Indonesia

sm | Jumat, 06 Desember 2013 - 17:32 WIB | 786 Views



Australia tidak akan berhenti mengumpulkan informasi intelijen tentang Indonesia, demikian kata Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, Jumat (6/12).


Sydney, baranews.co - Australia tidak akan berhenti mengumpulkan informasi intelijen tentang Indonesia, demikian kata Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, Jumat (6/12). Meski demikian, lanjut dia, Australia akan tetapi berusaha menjadi mitra yang baik bagi Indonesia.


Seperti yang telah diberitakan beberapa media, yang mengutip Edward Snowden - mantan pekerja badan rahasia Amerika Serikat (NSA) yang kini menjadi buronan negaranya sendiri - Australia diketahui menyadap telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, istrinya, dan sejumlah menteri pada 2009.


Laporan itu menyebabkan krisis dalam hubungan diplomatik dua negara. Indonesia menarik duta besar dari Australia dan memutuskan sejumlah hubungan kerja sama yang telah dibina dengan negeri kangguru itu.


Tetapi ketika hubungan dua negara mulai membaik, setelah Australia mengirim Menteri Luar Negeri Julie Bishop ke Jakarta, Kamis (6/12), untuk mengembalikan rasa kepercayaan antara dua pihak, Abbott malah mengeluarkan komentar kontroversial.


Ketika ditanya dalam wawancara dengan Radio Fairfax, apakah Australia akan berhenti mengumpulkan informasi intelijen soal Indonesia, Ia menjawab, "Tidak."


"Dan jelas mereka juga belum sepakat untuk berhenti mengumpulkan informasi intelijen tentang Australia," lanjut Abbott.


"Tetapi kami adalah sahabat dekat, kami adalah mitra strategis, dan saya jelas ingin Australia menjadi mitra kepercayaan Indonesia dan saya harap Indonesia bisa menjadi mitra kepercayaan Australia," beber dia lebih jauh.


Adapun Bishop dalam kunjungannya ke Jakarta kemarin mengatakan bahwa dia dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sudah sepakat untuk membuka jalur komonikasi yang lebih terbuka, sebagai langkah awal untuk melanjutkan kembali kerja sama antara dua negara.


Ia juga mengatakan bahwa Canberra sudah menyetujui enam poin rencana yang dikehendaki oleh Presiden SBY pekan laly, yang bertujuan untuk menetapkan langkah-langkah membangun kembali kepercayaan antara dua negara.


"Canberra tidak akan mengambil langkah atau menggunakan aset apa pun, termasuk aset intelijen, untuk merugikan Indonesia," tegas dia. (sm/b1)