MERASA cukup dengan dirinya sendiri, Jack Sim (56) memutuskan meninggalkan bisnis yang telah dibangunnya sejak usia 24 tahun, meliputi 16 perusahaan mulai dari perdagangan material bangunan, real estat, hingga sekolah internasional Australia di Singapura.

Di usia 40, Jack yang telah mencapai kemerdekaan finansial memutuskan mendedikasikan sisa hidupnya sebagai pekerja sosial. Bisnisnya diurus para manajer. Ia kemudian menjalani ”hidup baru” di usia 40 tahun, persis seperti idiom life begins at 40.


”Ketika mencapai usia 40 tahun, saya berpikir apa lagi yang akan saya lakukan. Saya ingin hidup berguna bagi banyak orang sebelum saya mati. Mencari banyak uang tidak menarik lagi bagi saya,” kata Jack di sela-sela pelaksanaan World Toilet Summit di Kota Solo, Jawa Tengah, awal Oktober lalu.


Jack lantas memilih toilet sebagai ladang pengabdiannya. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengingat pengalamannya saat kecil. Lahir di tengah keluarga miskin di kawasan kumuh saat kondisi negaranya, Singapura, lebih miskin dari Kamboja, Myanmar, dan Thailand, orang membuang kotoran sembarangan. Saat itu, kerap muncul wabah kolera dan diare.


”Saya menghayati bagaimana kondisi orang miskin yang tidak punya toilet karena pernah mengalaminya. Sampai sekarang toilet diabaikan sehingga saya memutuskan ikut mengurusi. Kebetulan saya membaca berita, Perdana Menteri Goh Cok Tong mengatakan, kebersihan negara diukur dari kondisi toilet umum. Meskipun di Singapura kondisinya sudah baik, masih banyak orang di negara lain yang belum punya toilet,” kata pria berjuluk Mr Toilet ini.


Jack menyaksikan bagaimana negaranya memperbaiki kondisi sanitasi dan bertransformasi dari negara tertinggal menjadi negara maju hanya dalam perjalanan satu generasi. Salah satu kontributornya, menurut Jack, adalah perbaikan sanitasi. Pemerintah Singapura mengeluarkan banyak uang untuk memperbaiki sistem sanitasi karena berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan warganya. Investasi di bidang sanitasi dan toilet dipandang jauh lebih rendah ketimbang harus mengeluarkan uang banyak untuk mengobati warga yang sakit akibat rendahnya kondisi sanitasi. Ketika sanitasi telah diperbaiki, mereka memberi penilaian dengan bintang 3 hingga bintang 5 terhadap kondisi toilet.


Menarik investor

Singapura juga membersihkan sungai-sungainya yang penuh dengan kotoran manusia. Butuh waktu 10 tahun untuk membersihkan sungai hingga airnya bersih dan bahkan bisa diminum langsung. Penduduk dilarang membuang hajat di alam terbuka, termasuk sungai. Mereka juga dilarang membuat toilet di sekitar sungai atau mengalirkan kotoran ke sungai.


Selain meningkatkan derajat kesehatan, perbaikan sanitasi ternyata menarik kedatangan investor asing. Para investor yang terbiasa dengan toilet bersih di negaranya biasanya enggan datang apalagi tinggal di negara dengan kondisi sanitasi buruk. ”Toilet erat kaitannya dengan kesehatan, pendidikan, pariwisata, pertumbuhan ekonomi hingga kebanggaan dan harga diri,” ujar Jack.


Salah satu kontribusi Jack adalah keberhasilannya melobi Pemerintah Singapura mengubah aturan untuk memberi ruang lebih luas bagi toilet perempuan. Dengan demikian, dapat dibangun kubikal lebih banyak sehingga perempuan tidak perlu antre. Menurut Jack, perempuan butuh waktu tiga kali lebih lama ketimbang pria saat berada di toilet sehingga perempuan kerap harus antre mendapatkan toilet. Kongres Amerika Serikat meloloskan aturan serupa pada tahun 2010.


Setelah mendirikan Restroom Association of Singapore (RAS) pada tahun 1998 dan berkampanye tentang pentingnya sanitasi, Jack menyadari masih sangat banyak penduduk bumi yang belum tersentuh sanitasi yang baik. Tercatat masih ada 2,5 miliar orang yang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang baik. Ia pun kemudian mencari organisasi semacam RAS di negara lain dan menjumpai 15 asosiasi serupa.


Jack menawarkan diri sebagai sekretariat dan menggagas pembentukan World Toilet Organization (WTO). Tanggal pendirian organisasi ini pada 19 November 2001, kemudian dideklarasikan sebagai Hari Toilet Sedunia dan mendapat pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 2013 yang didukung 122 negara. WTO yang menghimpun 186 asosiasi toilet dari 56 negara di dunia menjadi wadah berbagi, edukasi publik, penyatuan sumber daya, dan pemunculan inisiatif pembangunan di bidang sanitasi.


”Bagaimana mau mencari solusi kalau masalahnya saja kita hindari pembicaraannya. Tidak semestinya jutaan anak mati hanya karena masalah yang kita tidak mau membicarakannya,” tambah pria bernama Tionghoa, Sim Juek Wah ini.


Sejak 13 tahun lalu, setiap tahun digelar World Toilet Summit (WTS). Pelaksanaan WTS di Solo adalah yang ke-13. Selain itu digelar pula World Toilet Expo dan Forum pada 2005 dan 2006. Pada tahun 2005, ia mendirikan World Toilet College. Ia juga menggelar pelatihan bagi para pembersih dan para pelatih pembersihan toilet. Selain finansial, perilaku menjadi kendala sanitasi yang baik. ”Kita harus membuat punya toilet itu lambang status yang tinggi seperti halnya punya ponsel. Toilet yang baik tidak perlu mahal, cukup syarat bersih, higienis, bebas dari lalat, dan tidak mencemari air dan lingkungan,” kata Jack.


Jack juga mendirikan SaniShop. Ia melalui WTO mengajarkan secara gratis pembuatan perlengkapan sanitasi kepada penduduk lokal di sebuah negara.


Kiprah Jack mendapat dukungan penuh dari keluarga. Ia menjadi kebanggaan dan teladan bagi anak-anaknya yang kini terinspirasi meniru jejak sang ayah sebagai pekerja sosial. Namun, Jack dengan rendah hati berkata bahwa targetnya belum sepenuhnya tercapai, yakni toilet tidak menjadi isu tabu. ”Sudah mulai dibicarakan di tingkat elite, tetapi kami ingin membawanya lebih membumi,” kata Jack.


—————————————————————————

Jack Sim

 

Nama: Jack Sim atau Sim Juek Wah

Lahir: Singapura, 1957

Pendidikan

- Kim Keat Primary School- Whitley Secondary School

- Manajemen Hotel dari Badan Pelatihan Industri dan Keterampilan Singapura

- Master Administrasi Publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy 

Istri: Julie Teng

Anak: Earth, Worth, Truth, dan Faith

Penghargaan, antara lain:

- 2004: Penghargaan Perencanaan Hijau Singapura dari Singapopore's National Environment Agency 

- 2006: Penghargaan Wirausaha Sosial dari Schwab Foundation, Swiss dan menjadi Schwab Fellow pada Forum Ekonomi      Dunia 

- 2007: Menjadi orang Singapura pertama yang terpilih sebagai Ashoka Global Fellow

- 2008: Penghargaan ”ADB Water Champion” dari Asian Development Bank

- 2008: Penghargaan ”Pahlawan Lingkungan” dari Majalah ”Time”

- 2009: Penghargaan Asian of The Year dari Channel News Asia

- 2009: Penghargaan Asian of The Year dari Majalah ”Reader's Digest”

- 2013: Ditunjuk sebagai Adjunct Professor di College of Management Academic Study, mengajar wirausaha sosial