• Search
  • Menu

Yingluck Bubarkan Parlemen

aj | Senin, 09 Desember 2013 - 11:55 WIB | 667 Views



Saya tidak mau negara kita dan warga Thailand menderita lebih banyak kerugian, kata Yingluck dalam pernyataannya yang disiarkan televisi.


Bangkok, baranews.co - Setelah berminggu-minggu demonstrasi antipemerintah secara besar-besaran digelar di Bangkok, Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra membubarkan parlemen dan meminta diadakannya pemilu baru.


"Saya tidak mau negara kita dan warga Thailand menderita lebih banyak kerugian," kata Yingluck dalam pernyataannya yang disiarkan televisi.


"Saya memutuskan untuk membubarkan parlemen."


Pengumumannya itu dibuat selagi para pendemo mulai melakukan mars menuju kantornya, yang dikenal sebagai Kantor Pemerintah.


 


Yingluck mengumumkan hal itu dalam pidatonya yang disiarkan televisi Thai Television Pool of Thailand.


Namun, Suthep Thaugsuban, sekjen kelompok antipemerintah Panitia Demokrasi Reformasi Rakyat, memberikan pernyataan yang jelas bahwa bubarnya parlemen atau mundurnya PM Yingluck tidak akan menyelesaikan tuntutan masyarakat sampai "pengaruh Thaksin" benar-benar disingkirkan dari pemerintahan.


Mantan PM Thaksin Shinawatra yang kini menjadi buron dituduh telah melakukan praktik korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan serta dituding menghina Raja Bhumibol Adulyadej. Thaksin kabur dari Thailand sejak 2008 untuk menghindari pengadilan.


Sebelumnya pada Minggu (8/12) kemarin, Partai oposisi Thailand mengatakan para anggotanya akan mundur bersama-sama karena mereka tidak bisa lagi bekerja bersama pemerintah.


Juru bicara Partai Demokrat Chavanond Intarakom mengatakan partainya memiliki sekitar 150 anggota di parlemen.


Di Bangkok, protes dan demonstrasi yang masif masih berlangsung menuntut PM Yingluck mundur dari jabatannya.


"Pemerintahan ini tidak lagi layak untuk menjalankan negeri ini, karena Dewan sudah tidak lagi benar. Hari ini kami mundur untuk menunjukkan pendirian kami," kata pemimpin partai oposisi Abhisit Vejjajiva, yang juga pernah menjabat sebagai PM Thailand.


Tidak ada insiden berarti dalam demonstrasi yang terjadi. Namun, protes yang terjadi pada 30 November mengakibatkan lima orang meninggal saat para pendemo mengalami bentrok dengan pendukung Shinawatra.


Para pendemo dan pasukan keamanan setuju pada Selasa (3/12) silam untuk menghentikan kekerasan untuk menunjukkan rasa hormat kepada Raja Thailand yang akan merayakan ulang tahun ke-86. (AJ/B1)