• Search
  • Menu

Maut di Lintasan Kereta

sm | Selasa, 10 Desember 2013 - 08:20 WIB | 1027 Views



Di lokasi kejadian, teriakan histeris penumpang disambut pekik ngeri warga sekitar. Tiba-tiba bruk dan langsung gelap. Semua panik ingin keluar dari dalam kereta.

JAKARTA, baranews.co— Berupaya menerobos palang pintu pelintasan, truk tangki milik Pertamina meledak tertabrak kereta rel listrik commuter line di Jalan Bintaro Permai, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (9/12). Sebanyak 5 orang, termasuk masinis, 2 teknisi kereta api, dan 2 penumpang tewas serta sedikitnya 73 penumpang lain terluka.


Di lokasi kejadian, teriakan histeris penumpang disambut pekik ngeri warga sekitar. ”Tiba-tiba bruk dan langsung gelap. Semua panik ingin keluar dari dalam kereta. Waktu pintu akhirnya terbuka, saya dan penumpang lain berlompatan ke luar. Tidak ingat lagi bawa barang-barang,” kata Rahma, yang saat kejadian ada di kereta kelima dari rangkaian naas Commuter Line KA 1131, kemarin.


Budiawan Sidik, salah satu penumpang kereta itu, mengatakan, peristiwa terjadi sekitar pukul 11.15. Sebelumnya, kereta tersebut tiba di Stasiun Sudimara sekitar pukul 10.58, terlambat 20 menit dari jadwal seharusnya, yaitu pukul 10.38. Keterlambatan itu disebabkan kerusakan teknis pada sistem pendingin ruangan dan kereta diperbaiki di Stasiun Serpong sebelum diberangkatkan.


Siang itu, kereta buatan Jepang tersebut dipadati penumpang. Setelah meninggalkan Stasiun Pondok Ranji, kereta mulai menambah kecepatan. Ketika tengah melintas di sebuah tikungan, tak jauh dari pelintasan Bintaro Permai, masinis mengerem kereta itu dua kali dan kereta melambat. ”Tiba-tiba ada entakan dan terdengar bunyi benturan keras,” kata Budiawan.


Beberapa warga sekitar menambahkan, sebelum kejadian, bunyi sirene pertanda kereta mau lewat sudah berbunyi. Secara perlahan, palang pintu bergerak turun. KA 1131 sudah mendekati pelintasan. Pada saat bersamaan, di kanan kiri pelintasan memang mengantre kendaraan yang hendak melintas. Truk tangki bahan bakar minyak berkapasitas 24.000 liter milik Pertamina B 9265 SEH yang disopiri Chosimin tetap melenggang menerobos lintasan.


Tak terhindarkan, lokomotif KA 1131 menabrak bagian belakang truk yang langsung memicu ledakan. Asap hitam membubung tinggi yang terlihat dari radius 10 kilometer, seperti dari Serpong di Tangerang Selatan hingga ke Senayan, Jakarta Pusat.


Menuntut


Kepala Daerah Operasi I Jakarta PT KAI Heru Isnadi saat jumpa pers mengatakan, sebanyak lima orang tewas. ”PT KAI berbela- sungkawa atas kecelakaan ini dan bertanggung jawab terhadap semua pembiayaan korban,” katanya.


Menurut Isnadi, yang didampingi Sukendar dari PT KAI dan Apriyono dari PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), menambahkan, akibat kecelakaan ini, listrik aliran atas (LAA) sepanjang 1,5 kilometer rusak. Perbaikan LAA ini butuh waktu 10 jam-12 jam.


PT KAI juga mendatangkan alat berat (crane) dari Bandung dan Cirebon untuk membantu evakuasi dua gerbong yang keluar dari rel.


Isnadi menegaskan, kecelakaan ini karena penerobosan palang pintu. ”Sesuai prosedur, saat kereta berangkat dari Stasiun Pondok Ranji, sirene di pintu pelintasan ini langsung berbunyi dan pintu menutup perlahan. Total waktu proses sirene, palang pintu turun, sampai kereta lewat itu bisa 5-7 menit,” katanya.


Keprihatinan atas peristiwa itu juga diungkapkan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignasius Jonan.


”Kami ikut berbelasungkawa dan sangat prihatin atas meninggalnya korban kecelakaan jalan raya akibat ketidakdisiplinan pengguna jalan raya tersebut. Kami akan menangani korban dengan sebaik-baiknya dan mengusahakan besok pagi lintasan dapat segera digunakan secepatnya. Tindak lanjut dari tragedi itu, kami akan meminta ganti rugi dan berharap bahwa aparat yang berwenang mengambil tindakan hukum sesuai peraturan yang berlaku,” kata Jonan.


Sementara itu, Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina (Persero) Ali Mundakir, Senin (9/12), di Jakarta, menyatakan prihatin. Sejauh ini pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari pihak kepolisian dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan penyebab kecelakaan.


Pihaknya belum bersedia berkomentar lebih jauh mengenai rencana manajemen PT KAI mengajukan gugatan pidana dan perdata kepada Pertamina atas kecelakaan itu.


”Kami telah menerapkan manajemen keselamatan transportasi. Pertamina akan menanggung semua biaya pengobatan dan memberikan santunan kepada korban kecelakaan. Saat ini kami fokus pada penanganan para korban untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan,” kata Ali Mudakir.


Selain itu, menurut Ali Mudakir, Pertamina juga menyiagakan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sebagai salah satu rumah sakit rujukan para korban. Saat ini sudah ada enam pasien yang dirawat di rumah sakit itu.


Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menegaskan, penerobosan pintu pelintasan merupakan tanda atau bukti belum adanya disiplin berlalu lintas pada diri pengendara.


”Semua pengendara harus menjaga keselamatannya masing-masing. Para pengendara juga harus saling menjaga dan berani menegur apabila ada yang melanggar lalu lintas karena ini demi keamanan bersama,” kata Bambang.


Penjaga pelintasan


”Di situ (pelintasan) kan ada orang yang jagain. Orang itu yang nyuruh truk tetap masuk, padahal pintu sudah turun,” kata warga yang turut melihat di lokasi kejadian.


Berdasarkan data yang dihimpun Kepolisian Sektor Metro Pesanggrahan dan Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan, di pelintasan tersebut ada penjaga palang pintu resmi bernama Pamudji (48).


Ketika dimintai keterangan oleh polisi, Pamudji mengatakan bahwa saat menjelang kecelakaan, di sekitar pelintasan banyak angkutan umum selalu ngetem dan membenarkan ada antrean kendaraan. Ia melihat truk tangki itu melaju dan Pamudji berlari keluar pos untuk meminta sopir truk menghentikan laju kendaraannya.


Namun, truk sudah telanjur masuk. Untuk mengantisipasi kejadian, Pamudji akhirnya meminta sopir truk tancap gas agar bisa segera keluar dari pelintasan. Namun, truk malah terhenti dan tidak bergerak.


Selanjutnya, kecelakaan terjadi. Hawa panas ledakan truk menyengat wajah sebelah kanannya. Meskipun tak terluka parah, wajahnya terasa perih.


Diamankan


Polisi sudah mengamankan sopir dan kernet mobil tangki Pertamina. Keduanya terluka dan belum bisa dimintai keterangan.


Wakil Kepala Polda Metro Jaya Brigadir Jenderal (Pol) Sudjarno di lokasi kejadian mengatakan, saat ini keduanya diamankan di salah satu rumah sakit. ”Sopir tangki sudah kami amankan bersama satu kernet di salah satu rumah sakit,” kata Sudjarno saat meninjau proses evakuasi.


Menurut dia, keduanya masih belum bisa dimintai keterangan karena menderita luka bakar. Sopir truk itu bernama Chosimin, warga Cibitung, Jawa Barat, dan kernet bernama Mujiono, warga Bantargebang. Selain sopir dan kernet, polisi juga mengamankan penjaga palang pintu kereta tersebut.


Sudjarno tidak mau berspekulasi mengenai penyebab kecelakaan. ”Kami tidak boleh menduga-duga mengenai penyebabnya. Kami sudah mengumpulkan bahan dan keterangan dari sejumlah pihak. Semua masih diselidiki,” ujarnya.


Sudjarno menambahkan, petugas saat ini masih fokus untuk menangani evakuasi korban. ”Kami fokus dulu untuk penanganan korban. Korban luka ada di sejumlah rumah sakit, sementara korban meninggal semua dibawa ke RS Kramat Jati agar memudahkan identifikasi.”


Polisi membentuk tim investigasi untuk menyelidiki penyebab tabrakan. ”Tim itu terdiri dari polisi, ahli perkeretaapian, pakar transportasi, dan beberapa pihak lain untuk menyelidiki kasus ini karena ini berkaitan dengan banyak hal,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Chrysnanda Dwi Laksana di lokasi kejadian.


Keluarga korban tewas dan sejumlah pegawai PT KAI hingga Senin malam masih berada di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Mereka menunggu penyerahan jenazah korban. (sm/kompas)