JAKARTA, baranews.co - KETIKA begitu banyak orang hanya menonton dan ”menikmati horor” akibat tabrakan maut antara kereta commuter line KA 1131 dan sebuah truk pengangkut bahan bakar minyak di pelintasan Jalan Bintaro Permai, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (9/12), ternyata banyak warga yang tidak mengenal lelah membantu menyelamatkan korban.


Warga RW 009, Kelurahan Bintaro, Pesanggrahan, langsung sigap menyiagakan tiga lokasi untuk evakuasi korban sebelum dibawa ke rumah sakit terdekat. ”Ada tiga lokasi yang disiapkan warga, yaitu di masjid, di sekretariat RW 009, serta di SDN 06,010, dan 011,” kata Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat.


Di Masjid Al-Muflimun yang berada tepat di samping pelintasan naas itu, beberapa korban yang terluka parah, antara lain terbakar di beberapa bagian tubuhnya, sempat disemayamkan sementara sebelum akhirnya dijemput mobil ambulans.


Entah siapa yang pertama kali memulai, saat proses evakuasi berlangsung dan begitu banyak orang berkumpul, kardus-kardus berisi air mineral telah teronggok di emperan masjid. ”Siapa yang kehausan, capek, minum dulu. Seadanya,” seru seorang pria sembari membuka salah satu kardus.


Kisah yang lain dituturkan Sugeng, Kepala Sekolah SDN 011 Bintaro yang tepat berada di depan Masjid Al-Muflimun. Ia tengah berada di kantor saat kecelakaan terjadi. Ia lantas melihat dari lantai atas gedung SD yang terletak sekitar 50 meter dari lokasi kejadian itu.


”Orang-orang panik dan kemudian sejumlah korban luka di bawa ke sekolah ini,” katanya.


Sugeng langsung meminta siswa-siswanya yang baru saja menyelesaikan ujian akhir semester (UAS) segera pulang ke rumah masing-masing. Inisiatif Sugeng disambut Kepala Sekolah SDN 06 Cucu Sumiasih yang langsung meminta siswanya yang masuk siang untuk tak perlu ke sekolah dulu.


”Di sini gedungnya dipakai bergiliran, pagi dan siang. Nah, untuk yang siang, UAS yang seharusnya diikuti sekitar 550 siswa diputuskan diundur dulu. Ini kasus genting,” kata Sugeng.


Para kepala sekolah ini beralasan, pasti banyak korban yang butuh tempat perawatan pertama sebelum dilarikan ke rumah sakit. Selain itu, begitu dekatnya gedung sekolah dengan lokasi kecelakaan juga menyebabkan gedung tersebut berpotensi terkena dampak yang tidak diinginkan. Informasi yang berkembang, Senin siang kemarin, masih tersisa bahan bakar minyak di dalam tangki truk yang siap meledak lagi jika tak tertangani dengan baik.


Saat siswa telah meninggalkan sekolah, beberapa ruang kelas di lantai satu menjadi ruang perawatan trauma psikis dan korban yang terluka ringan. Lapangan sekolah ini juga menjadi tempat parkir sejumlah ambulans sebelum menjemput pasiennya.


Sugeng, Cucu, dan sejumlah pengajar berbaur bersama petugas Palang Merah Indonesia, petugas medis dari kepolisian, serta sukarelawan membantu korban. Mereka sigap dan penuh perhatian terhadap korban. Karina, gadis belasan tahun yang tinggal di Serpong, misalnya, langsung reda tangis dan teriakannya ketika dibawa ke ruang perawatan di kelas Sugeng. Penumpang commuter line KA 1131 Jurusan Serpong-Tanah Abang yang terlibat kecelakaan itu sempat menderita sesak napas dan trauma.


Dari jendela

Ratna Ria Kemal (33) tak pernah membayangkan perjalanan kereta kali ini berujung maut. Ia selalu percaya perjalannya ke tempat kerja akan baik-baik saja.


Saat ditemui di Rumah Sakit Suyoto, Jakarta Selatan, Ratna mengatakan, ia berada di gerbong pertama kereta commuter line KA 1131 saat kecelakaan terjadi. Dia tersentak ketika merasakan dua kali benturan keras. Sesaat kemudian gerbong yang ditumpanginya terguling, Ratna tertindih penumpang lain. Suasana gerbong gelap dan pengap oleh asap. ”Saya berusaha tidak panik, sementara penumpang lain sudah pada menjerit ketakutan,” kata Ratna.


Namun, beberapa saat kemudian, Ratna tidak bisa menahan diri. Ratna berteriak minta tolong agar dua anak kecil di atas tubuhnya tidak diinjak.


Rasa takut tiba-tiba menghampirinya ketika api berkobar di dalam kereta disertai asap yang semakin pekat. ”Semua orang bingung, mencari jalan keluar, sementara gerbong gelap. Saya lihat ada jendela kaca yang terbuka. Semua orang lewat sana menyelamatkan diri,” kata ibu dua anak asal Pamulang, Tangerang Selatan, ini.


Ketika itu, tidak satu pun pintu terbuka. Hanya ada jendela kaca yang terbuka di bagian tengah dan belakang kereta. Setelah keluar dari kereta maut tersebut, Ratna menyadari bahwa tangannya melepuh karena menyentuh benda panas.


Korban lainnya Eka (25), penumpang kereta dari Stasiun Sudimara. Berbeda dengan Ratna, Eka memanfaatkan pintu yang terbuka setelah terjadi benturan keras.


Tidak terbayang, perempuan ini melompat dari badan kereta ke lintasan rel berbatu setinggi 1,5 meter. Pikirannya hanya ingin menyelamatkan diri.


Peristiwa naas tersebut menyisakan trauma. Selain luka-luka fisik, hampir semua korban mengalami trauma psikis. Direktur Rumah Sakit Dr Suyoto, Jakarta Selatan, Kolonel Kesehatan Budi Satriyo meminta bantuan psikolog untuk memulihkan kondisi korban. ”Mereka mengalami trauma inhalasi sehingga perlu bantuan psikolog dan oksigen,” kata Budi.


Sementara sebagian besar korban terluka karena benturan benda keras dan luka bakar. Korban dengan luka bakar lebih dari 30 persen dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki sarana pemulihan korban kebakaran. Paling tidak ada 80 korban kecelakaan kereta yang dibawa ke RS Suyoto, 2 di antaranya meninggal dunia, dan 15 korban dirujuk ke rumah sakit lain.


Rumah sakit ini menjadi pos penanganan awal korban kecelakaan karena berada kurang dari 2 kilometer dari lokasi kejadian. Puluhan orang mendatangi Rumah Sakit Dr Suyoto untuk memastikan nasib sanak saudaranya. Sebagian orang enggan dimintai keterangan seraya menjauh dari papan pengumuman dengan isak tangis.


Menghadapi korban trauma membutuhkan kesabaran tersendiri. Sugeng, misalnya, kemarin terus membujuk salah satu korban kecelakaan, Rasikem, yang tengah hamil agar mau dievakuasi ke rumah sakit.


Berkali-kali petugas dan guru turut membujuknya agar mau mendapatkan perawatan lebih lanjut. Namun, Rasikem tak mau karena masih menunggu suaminya datang. (fa/kompas)


Seorang guru perempuan pun mendekat membawa semangkuk soto dan sepiring nasi.


”Mbak, makan saja dulu. Biar tidak lemah, kasihan bayinya. Apakah mau saya suapin?” kata guru tersebut.


”Biar saya makan sendiri saja, Bu,” sahut Rasikem yang lantas menyendok makanan itu. Setelah korban makan, beberapa guru dan petugas kesehatan kembali membujuk perempuan tersebut sehingga akhirnya mau dievakuasi ke rumah sakit dengan ambulans.


”Dia awalnya tidak mau dibawa ke rumah sakit. Tadi, katanya, mau menunggu suaminya dulu. Kami takutnya ada apa-apa,” kata Sugeng.


Ada puluhan korban luka yang dibawa ke SDN 011 itu. ”Yang lukanya agak berat langsung dibawa ke rumah sakit. Sementara yang tersisa di sini yang belum mau dievakuasi. Mereka katanya menunggu dijemput keluarga,” kata Sugeng.


Ningsih (50), salah seorang penumpang yang memilih bertahan di SDN 011, mengatakan, ia naik dari Stasiun Sudimara hendak ke Palmerah, ke tempat saudaranya. ”Tiba-tiba, terdengar suara benturan keras dan kereta terguling. Kami semua terjatuh,” kata Ningsih yang berada di gerbong pertama.


Menurut Ningsih, penumpang bisa selamat karena ada sejumlah warga setempat yang berusaha memecahkan kaca kereta dari luar gerbong.


”Ada bapak-bapak pakai sarung memecahkan kaca pakai batu. Setelah kaca pecah, kami bisa keluar,” ujar Ningsih.


Ningsih bersyukur karena ada warga yang mau menolong meski waktu itu api sudah begitu besar dengan asap yang membubung tinggi. ”Kalau tidak ada yang mecahin kaca, mungkin korban lebih banyak,” ujarnya.


Api membesar karena bahan bakar yang tumpah dari tangki truk yang tertabrak kereta. Bahkan, saat hujan turun dengan deras, api tetap terlihat menyala. Di tengah guyuran hujan, petugas berusaha mengevakuasi korban meninggal yang masih terjebak di kereta. Baru sekitar pukul 13.30, api dapat dipadamkan. Akhirnya sekitar pukul 15.45, petugas berhasil mengangkat korban terakhir. Baju basah kuyup dan lelah, tetapi kelegaan tampak di mata petugas. (fa/kompas)