BANGKOK, baranews.co — Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra bersikukuh menolak mundur sebagai acting PM sampai pemilu digelar 2 Februari 2014 dan kabinet baru terbentuk. Hal itu dia nyatakan seusai pertemuan mingguan kabinetnya di Thai Army Club di Vibhavadi Rangsit Road Bangkok, Selasa (10/12).

Ia memberi pernyataan tersebut di televisi nasional sembari menangis. ”Mengapa kita sesama rakyat Thai harus saling menyakiti?” kata Yingluck. Ia juga meminta kepada pengunjuk rasa tidak menyalahkan klan Shinawatra dan meminta Partai Demokrat turut dalam pemilu 2 Februari 2014.


Yingluck terpaksa menggelar pertemuan mingguan kabinetnya di Thai Army Club karena sejak Senin (9/12), kantornya, Government House, diduduki pengunjuk rasa yang bermalam di sepanjang Jalan Ratchadamnoen Nok hingga tembus ke Monumen Demokrasi. Rute sepanjang 6 kilometer tersebut diduduki pengunjuk rasa hingga Selasa malam.


Demikian dilaporkan wartawan Kompas, Elok Dyah Messwati, dari Bangkok, Thailand.


Penampilan Yingluck di televisi nasional Selasa siang kemarin ditayangkan ulang di puluhan layar lebar di sepanjang jalan tersebut pada Selasa petang kemarin. Tayangan itu disoraki massa pengunjuk rasa, terlebih setelah mengakhiri pidatonya dan meninggalkan podium, Yingluck sempat menolehkan kepala dan tertangkap kamera sedang tersenyum.


Satit Wongnongtoei, pemimpin demonstran, di Monumen Demokrasi, langsung mengomentarinya, ”Yingluck setelah menangis langsung tersenyum,” kata Satit, langsung disambut sorakan massa demonstran.


”Mengapa Yingluck menggelar rapat kabinetnya di markas militer? Sepertinya dia ingin menunjukkan kepada kita bahwa militer masih mendukungnya,” kata Boonmee Lee, salah seorang pengunjuk rasa asal Hatyai, Thailand Selatan, yang berprofesi sebagai konsultan IT.


Hari Demokrasi Thailand

Hari Selasa kemarin merupakan hari libur nasional di Thailand untuk memperingati Hari Demokrasi Thailand dan untuk menghormati Raja Rama VII yang adalah ”Bapak Demokrasi Thailand”. Karena itu, pengunjuk rasa, kemarin, ingin bergerak menuju patung Raja Rama VII. Namun, mereka tak jadi mendatangi lokasi tersebut karena Yingluck juga mendatangi lokasi yang sama dan banyak polisi mengamankan area tersebut.


Setelah itu dari patung Raja Rama VII, Yingluck dikabarkan menuju Chiang Rai, Thailand Utara, wilayah partainya, Pheu Thai, banyak mendapat dukungan pada pemilu lalu. Belum diketahui apa tujuan Yingluck ke Chiang Rai. ”Yingluck melarikan diri ke Chiang Rai,” kata Satit dan terus disambut sorakan massa.


Tak hanya menayangkan pidato Yingluck, sejumlah foto Yingluck dalam bentuk kartun atau dimodifikasi dalam beberapa posisi pun juga ditayangkan di layar lebar sehingga membuat demonstran terpingkal-pingkal.


Sementara itu, pengunjuk rasa terus mendesak Yingluck dan menterinya mundur. Mereka bertekad tak akan menghentikan aksi unjuk rasa sampai rezim Thaksin tersebut mundur.


Sekretaris Jenderal The People’s Democratic Reform Committee Suthep Thaugsuban menyatakan, pihak pengunjuk rasa menolak pelaksanaan pemilu 2 Februari 2014, sesuai konstitusi bahwa pemilu harus dilaksanakan dalam 60 hari ke depan. ”Pemilu bisa dilaksanakan jika sudah ada reformasi,” kata Suthep.


Seorang biksu, Pudta Isara, di panggung orasi di depan Kementerian Pendidikan menyatakan, Yingluck benar-benar tak mengerti situasi. Di negara lain, jika ada ribuan orang berdemonstrasi, pemimpin negara pasti akan mengundurkan diri.


”Di Thailand, 5 juta orang sudah berunjuk rasa, dia tetap tak mau melepaskan jabatannya,” katanya.


Tenggat berakhir

Selasa malam, pemimpin demonstrasi anti-pemerintah Suthep Thaugsuban berorasi di hadapan massa di depan Kantor Perdana Menteri Thailand. Tenggat 24 jam yang ditetapkan Suthep agar Yingluck mundur dari kursi perdana menteri berakhir pukul 22.00 waktu setempat.


Dalam orasinya, Suthep mengatakan, Yingluck harus berhenti sebagai perdana menteri karena sudah tak dapat bekerja lagi. ”Yingluck tinggal sendiri, mengapa Anda mengukuhi jabatan Anda? Kembalikan kekuasaan kepada rakyat!” seru Suthep.


Dalam pidato singkatnya selepas tenggat pukul 22.00, Suthep mengatakan, beberapa hari lalu pemerintah meminta polisi menangkapnya. ”Akan tetapi, sekarang saya minta polisi menangkap Yingluck karena dia tidak menaati hukum,” kata Suthep yang mantan anggota parlemen. (fa)