• Search
  • Menu

''Jurnalisme Harapan'' dalam Peliputan dan Penulisan Berita HIV/AIDS

Oleh Alfan Manah-Baranews.co | Rabu, 04 November 2015 - 15:19 WIB | 935 Views



masih banyak pemberitaan di berbagai media massa dan media online di Indonesia yang turut menstigma dan menyampaikan informasi yang menyimpang soal HIV/AIDS

Pemateri, Syaiful W Harahap (tengah) diwawancarai oleh Kanaya wartawati Radio "SMS" FM Sukabumi dan Herman Lengam RRI Manokwari, Papua Barat (Foto: Baranews.co-Alfan Manah).


MAKASSAR, Baranews.co - “Wartawan diharapkan dapat menulis berita yang lebih obyektif tentang HIV/AIDS dan mengedepankan pemberitaan yang bersifat mendidik dan melahirkan harapan. Jangan sampai pemberitaan yang dibuat oleh teman-teman wartawan justru menyesatkan, turut menstigma, dan melahirkan mitos yang salah tentang HIV AIDS.”


Demikian disampaikan Syaiful W. Harahap, Komite Media Pernas AIDS V Makassar yang juga Wapemred portal berita “baranews.co” dalam sesi pelatihan media pada Pernas (Pertemuan Nasional) AIDS di Makassar (26/10-2015) di hadapan 22 wartawan dari seluruh wilayah Indonesia yang mendapatkan penghargaan selaku penerima beasiswa media ke Pernas AIDS V di Makassar 25-29 Oktober 2015.


Menurut penulis buku “Pers Meliput AIDS” yang diterbitkan pada tahun 2000 ini, masih banyak pemberitaan di berbagai media massa dan media online di Indonesia yang turut menstigma dan menyampaikan informasi yang menyimpang soal HIV/AIDS.


Karena itu, Syaiful memandang pelatihan tentang “Jurnalisme Harapan Dalam Meliput Isu HIV/AIDS” sebagai sebuah keharusan sekalipun kaidah jurnalistik sudah memberikan batasan sejauh mana suatu fakta boleh dijadikan informasi oleh media.


Ambil misal, seorang wartawan mengangkat fakta personal seorang pengidap HIV/AIDS. Yang harus dijadikan dasar pertimbangan adalah sejauh mana fakta personal tersebut bisa dijadikan informasi publik. Dari aspek etis, apakah yang bersangkutan setuju dan memiliki kerelaan untuk dipublikasikan.


“Demikian pun halnya pemilihan kata dalam penulisan HIV AIDS agar tidak turut menstigma para penderita HIV AIDS  atau pun kelompok berisiko tinggi lainnya seperti gay, laki-laki biseksual dan waria,” ungkapnya.


Syaiful kemudian mengangkat sejumlah fakta pemberitaan media. Menurutnya, ada sejumlah media yang menghasilkan pemberitaan yang tidak obyektif dalam arti penggambaran epidemi HIV/AIDS yang tidak menyeluruh, sehingga tidak dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahayanya. 


Dirinya menemukan pada kasus tertentu, media tidak mengulas sifat epidemi HIV/AIDS yang serupa dengan fenomena gunung es dengan jelas kepada pembaca, malah yang ditonjolkan angka pengidap HIV/AIDS yang rendah, sehingga ada kemungkinan, pembaca menangkap bahwa HIV/AIDS itu tidak perlu terlalu dikuatirkan.


Menurut Syaiful, menahan informasi yang menyeluruh soal HIV/AIDS, bukanlah dosa dunia jurnalistik yang paling berat, namun ketika dunia jurnalistik turut meremehkan kemungkinan penyebaran epidemi HIV AIDS, pers ikut menanamkan rasa aman yang semu pada masyarakat yang mengakibatkan sikap acuh tak acuh terhadap penanggulangan penularan HIV.


Menutup pernyataannya, Syaiful tetap meyakini bahwa media maa ssmemiliki peran yang sangat strategis dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS secara menyeluruh dan komprehensif di Indonesia. Karenanya melahirkan “Jurnalisme Harapan” adalah sebuah keniscayaan. *