• Search
  • Menu

Warga Buru Terpapar Merkuri, Perintah Jokowi Tutup Tambang Diabaikan

| Sabtu, 07 November 2015 - 11:09 WIB | 2414 Views



Ironisnya, sampai saat ini penambangan tetap berlangsung kendati secara lisan Presiden Joko Widodo telah memerintahkan tambang tanpa izin itu segera ditutup

Eksploitasi emas secara ilegal di Gunung Botak kian tak terkendali seperti yang terpantau beberapa waktu lalu). Sejumlah informasi menyebutkan, lebih dari 1.000 petambang tewas di tempat itu sejak aktivitas penambangan mulai dikerjakan pada November 2011. (Repro: KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN).


 


AMBON, Baranews.co - Zat merkuri yang digunakan untuk pengolahan hasil tambang emas liar di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, terdeteksi telah masuk ke dalam tubuh manusia.


Ironisnya, sampai saat ini penambangan tetap berlangsung kendati secara lisan Presiden Joko Widodo telah memerintahkan agar tambang tanpa izin itu segera ditutup.

Yusthinus T Male, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura, Ambon, yang terlibat dalam penelitian itu, Jumat (6/11), mengatakan, merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan.


Pasalnya, limbah pengolahan emas dibuang ke Sungai Waeapo yang memiliki tujuh subdaerah aliran sungai. Sungai itu merupakan sumber utama pengairan lahan pertanian di daerah itu.


Data pemerintah setempat, sekitar 10.000 petambang beraktivitas di Gunung Botak. Bupati Buru Ramly I Umasugi mengatakan, pihaknya sulit menertibkan penambangan liar karena ada keterlibatan oknum-oknum tertentu. "Puluhan kali kami tertibkan, setelah itu mereka menambang lagi," ucapnya (Kompas, 7/2).


Kadar sangat tinggi


Penelitian Yusthinus dimulai pada 2012, setahun setelah aktivitas penambangan masif. Penelitian diawali pada sedimen sungai. Mereka menemukan kadar merkuri di sana sudah sangat tinggi, mencapai 9 miligram (mg) per 1 kilogram (kg) lumpur. Padahal, ambang batas merkuri pada sedimen tidak boleh lebih dari 1 mg per 1 kg lumpur. Sampel dari sedimen di tujuh lokasi.


 


PENAMBANGAN EMAS ILEGAL DI PULAU BURU


FEBRUARI 2012



  1. Emas ditemukan di Wansait, Kecamatan Waeapo, Pulau Buru, Sejak itu muncul penambangan emas secara tradisional di Pulau Buru.

  2. Upaya penutupan tambang tidak berhasil karena sebagian warga tidak setuju. Warga ikut mendulang emas, dan membiarkan ribuan pendulang dari sejumlah daerah mendulang dengan biaya Rp 100.000 per orang.


5 DESEMBER 2012



  1. Areal penambangan emas ditutup aparat. Selain memicu bentrokan antarpenambang dan masyarakat sekitar, juga dampak lingkungan akibat penggunaan bahan kimia merkuri dan sianida dalam proses pengolahannya.


JANUARI 2013



  1. Para petambang kembali lagi ke Buru setelah mendapat izin dari masyarakat adat yang menguasai area tambang.


NOVEMBER 2014



  1. Aparat keamanan dan pemerintah turun tangan. Pelarangan aktivitas penambangan ilegal diabaikan dan penggalian terus berlanjut.

    1.  

      1. Presiden Joko Widodo hadir di Kecamatan Waeapo dalam rangka penanaman perdana 1 juta hektar jagung dan padi. Warga menyampaikan keluhan tentang keberadaan tambang emas ilegal yang berdiri tidak jauh dari areal pertanian. Presiden meminta penambangan emas di Gunung Botak segera ditutup.

        1.  

          1. Pemerintah Kabupaten Buru kembali menutup penambangan emas secara tradisional di Wansait, Waeapo, Buru, Maluku.

            1.  

              1. Uap merkuri menyebabkan keracunan.

              2. Merusak kulit, selaput mata, dan saluran pernapasan.

              3. Menyebabkan gagal ginjal.

              4. Mengganggu daya tahan tubuh.

              5. Keguguran janin pada ibu hamil dan cacat pada bayi.

              6. Menyebabkan tuli.


            2. DAMPAK MERKURI BAGI KESEHATAN




        2. 15 MEI 2015




    2. 7 MEI 2015




Sumber: Litbang ”Kompas”/BEY/RIN, disarikan dari pemberitaan Harian ”Kompas” dan BPOM


 


 


Penelitian dilanjutkan tahun 2014 dengan fokus pada bahan makanan yang meliputi udang, ikan, kerang-kerangan, dan kepiting yang diambil dari Teluk Kayeli, muara sungai yang sudah tercemar. Konsentrasi merkuri pada 30 persen sampel itu pun sudah melampaui batas atas standar nasional yang hanya 0,5 mg per 1 kg sampel. Temuan pada udang lebih dari tiga kali lipat dibandingkan standar, ikan tujuh kali, kerang enam kali, dan kepiting dua kali.


Mereka juga meneliti kandungan merkuri pada tubuh manusia dengan menjadikan rambut sebagai sampel. Hasilnya, pada rambut penduduk di sekitar tempat pengolahan emas, kadar merkuri 18 mg per 1 kg sampel atau lebih tinggi 36 kali dari standar. Ada lima warga dari petambang yang dijadikan sampel.


Pada sampel penduduk yang bukan pekerja tambang ditemukan konsentrasi merkuri di atas dua sampai tiga kali standar. Lima penduduk dijadikan sampel.


Sebelum memublikasikan hasil penelitiannya, Yusthinus dan Albert Nanlohy selaku pemimpin tim penelitian sudah melakukan uji banding hasil analisis sampel sama di Australia dengan melibatkan peneliti Australia, Amanda J Reichelt-Brushett, ahli lingkungan terkenal di dunia.


"Walaupun hanya dua sampai tiga kali melebihi ambang batas, hal itu sudah berbahaya. Melalui proses biomagnifikasi, yaitu pelipatgandaan konsentrasi merkuri melalui rantai makanan, manusia yang menempati puncak rantai makanan akan menerima dampak akumulasi merkuri," paparnya.


Merkuri akan menumpuk di otak sehingga menyebabkan kegagalan motorik, seperti tangan tidak bisa bergerak. Gejala awal adalah kesemutan hingga lumpuh total. Khusus untuk wanita hamil atau menyusui, merkuri akan menular ke janin atau bayi sehingga bisa mengakibatkan cacat fisik dan mental. Merkuri bisa menembus plasenta sehingga dikhawatirkan tragedi Minamata di Jepang bakal terulang di Buru.


Mereka masih menganalisis kandungan merkuri yang ada dalam hasil pertanian di Buru. "Kami yakin area pertanian yang dekat dengan lokasi pengolahan emas itu sudah terkontaminasi zat merkuri," katanya.

Menurut data Dinas Pertanian Maluku, pada 2014, dari produksi padi sebanyak 101.836 ton gabah kering giling, 42,33 persen berasal dari Buru. Padahal, banyak area persawahan di Buru menggunakan air dari sungai yang sudah tercemar itu.


Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Krisis Kesehatan Dinas Kesehatan Maluku Ritha Tahitu juga mengemukakan temuan merkuri yang melebihi ambang batas di sejumlah lokasi, seperti Teluk Kayeli, tempat pemandian umum di Anahoni, serta sumur bor di Desa Wamsait dan Desa Kayeli.


Catatan Kompas, kerusakan lingkungan di Buru sudah menjadi perhatian Presiden Jokowi. Dalam kunjungannya, Mei lalu, Presiden memerintah agar aktivitas itu segera dihentikan.


"Saya perintahkan Kapolda (Maluku) untuk menutup tambang ilegal," kata Jokowi.


Namun, kondisi lingkungan saat ini justru semakin parah dibandingkan pantauan Kompas di Gunung Botak, Februari lalu.


Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Maluku Andrew Ardiansz mengatakan, Gubernur Maluku Said Assagaff telah mengeluarkan surat keputusan untuk penataan kembali kegiatan penambangan di Buru. Surat keputusan itu dikeluarkan pada akhir Oktober lalu. (FRN)/KOMPAS cetak