• Search
  • Menu

IPB Rintis Obat Herbal dan Jamu

fa | Rabu, 11 Desember 2013 - 10:20 WIB | 1555 Views



Besarnya potensi bahan baku herbal dan jamu di Indonesia, memerlukan lembaga khusus untuk melakukan pengembangan riset dan teknologinya.


Jakarta, baranews.co - Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor (IPB) tengah dirintis menjadi pusat unggulan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).


Besarnya potensi bahan baku herbal dan jamu di Indonesia, memerlukan lembaga khusus untuk melakukan pengembangan riset dan teknologinya.


Adanya kecenderungan pola hidup kembali ke alam dan mengonsumsi obat alami yang relatif lebih aman dibanding obat sintetik berdampak pada tingginya permintaan obat alami. Sehingga prospek pasar tumbuhan obat dan obat herbal di Indonesia besar peluangnya di dalam dan luar negeri.


Data World Health Organization (WHO) menyebutkan, sebanyak empat miliar orang penduduk dunia menggunakan herbal. Sedangkan pasar obat herbal di Indonesia atau jamu pada 2010 menembus nilai Rp 7,2 triliun, sedangkan 2011 Rp 12 triliun. Bahkan menurut data riset kesehatan dasar 2010, sekitar 93 persen masyarakat yang pernah minum jamu menyatakan bahwa minum jamu memberikan manfaat bagi tubuh.


Tercatat puluhan riset PSB-IPB telah dipatenkan dan berpotensi tinggi untuk dikomersilkan. Kementerian Riset dan Teknologi saat ini menginisiasi kerja sama antara PSB-IPB dengan industri jamu di bawah koordinasi Gabungan Pengusaha Jamu.


Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta mengatakan, Indonesia memiliki ribuan potensi obat herbal, tapi baru ratusan yang dikelola. Ia khawatir bila tidak segera diketahui manfaatnya bisa punah, karena penebangan hutan dan lainnya.


"Di Kalimantan daerah asal saya saja, banyak bahan-bahan obat herbal dan saya pun pernah meminumnya misalnya kumis kucing, pasak bumi, akar kuning dan kelakai yang tumbuh di rawa dan baik untuk menambah darah ibu setelah melahirkan," katanya di sela penandatanganan kesepakatan bersama antara Kementerian Ristek, IPB dan Gabungan Pengusaha Jamu di Jakarta, Selasa (30/7).


Kesepakatan ini meliputi kerja sama pendidikan, pemagangan untuk peningkatan sumber daya manusia di bidang jamu, penyediaan bahan baku terstandar untuk pemenuhan kebutuhan industri, pengembangan produk jamu melalui penelitian dasar dan terapan yang dapat diimplementasikan oleh industri.


Menristek menambahkan, PSB-IPB akan didorong terus sehingga suatu saat nanti bisa diresmikan menjadi salah satu pusat unggulan iptek di bidang biofarmaka.


Saat ini Kemristek membina 12 cikal bakal pusat unggulan iptek, tiga di antaranya sudah diresmikan menjadi pusat unggulan iptek yakni, Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan, Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember.


Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GP Jamu), Charles Saerang mengungkapkan, saat ini pasar jamu di Indonesia mencapai Rp 13 triliun. Ia pun mengapresiasi adanya kerja sama ini.


"Inovasi semua ada di sini, penelitian semua ke sini. Jangan masing-masing sehingga tidak overlapping (tumpang tindih)," ucapnya


Adanya kerja sama di lembaga pengembangan dan penelitian obat herbal dan jamu ini, Charles optimistis akan dilakukan penelitian setiap satu komponen herbal, seperti temulawak atau pun jahe.


Di samping itu, untuk tahap pertama GP Jamu menyiapkan Rp 1 miliar untuk membeli hasil penelitian herbal yang sudah dijadikan produk yang siap dipasarkan. Untuk mencapai pengembangan jamu atau obat herbal dari hulu sampai hilir, perbankan juga perlu mempermudah akses dan mendukung pendanaan penelitian. (fa/sp)