• Search
  • Menu

Harta Akil Terus Disita

fa | Rabu, 11 Desember 2013 - 10:33 WIB | 1178 Views



Senin lalu, KPK menyita dua mobil dan sebidang tanah tempat kediaman istri Akil, Ratu Rita di kawasan Pancoran, Jakarta.

AKARTA, KOMPAS, baranews.co — Daftar harta mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar yang disita Komisi Pemberantasan Korupsi terus bertambah. Senin lalu, KPK menyita dua mobil dan sebidang tanah tempat kediaman istri Akil, Ratu Rita di kawasan Pancoran, Jakarta. Barang sitaan itu diduga merupakan hasil tindak pidana pencucian uang.


”Terkait penyidikan tindak pidana pencucian uang AM (Akhil Mochtar), penyidik kembali menyita dua mobil, Ford Fiesta dan Kijang Innova,” ujar Juru Bicara KPK Johan Budi, Selasa (10/12), di Jakarta.


Dengan tambahan dua mobil itu, sudah 33 mobil aneka merek terkait Akil disita. Dalam sejarah KPK, jumlah sitaan ini merupakan yang terbanyak.


Selain mobil, KPK juga menyita tanah 6.000 meter persegi di Kecamatan Waluran, Sukabumi, Jawa Barat. Lahan itu merupakan salah satu dari sejumlah properti milik Akil yang disita KPK.


Johan juga menyatakan, KPK memeriksa Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany sebagai saksi untuk perkara suap yang melibatkan Akil.


Atut dan Airin datang ke KPK setelah mangkir, pekan lalu. Keduanya dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus dugaan suap sengketa pemilihan kepala daerah Lebak, Banten, di MK.


Airin datang lebih dahulu. Mengenakan kerudung putih bermerek Hermes dan baju putih, ia memasuki Gedung KPK. Ia tidak banyak berkomentar saat keluar dari minibus warna perak metalik yang ditumpanginya ke gedung KPK.


Airin tetap tidak berkomentar saat keluar dari gedung KPK. Ia tidak menjawab saat ditanya apa saja inti pemeriksaan saat di dalam gedung KPK selama hampir delapan jam. Sikap sama ditunjukkan Atut saat tiba beberapa menit setelah Airin. Dengan kerudung hitam merek Louis Vuitton dan baju coklat, ia langsung menuju gedung KPK.


Seusai berada di gedung KPK sekitar 11 jam, Atut hanya menyatakan datang untuk memberi keterangan ke KPK.


Sementara itu, Tubagus Sukatman, kuasa hukum Atut, membenarkan pertemuan kliennya dengan Akil Mochtar di Singapura, September lalu. Namun, dia menyatakan, pertemuan itu tidak disengaja dan tidak membahas masalah Pilkada Lebak.


Menurut Johan, Atut dan Airin tidak dipertemukan secara fisik dengan dua tersangka dalam kasus ini, yaitu Akil dan Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, suami Airin sekaligus adik Atut. Namun, penyidik mencocokkan keterangan mereka dengan keterangan Akil dan Wawan serta saksi-saksi lain.


Sebelum datang ke Gedung KPK, Airin sempat membuka rapat rutin seluruh satuan kerja perangkat daerah Tangsel. Dua acara lain yang sudah dijadwalkan tidak dihadirinya. Acara itu adalah menghadiri kegiatan bersama TNI dan menghadiri seminar tentang jender.


”Acara TNI diwakilkan kepada Wakil Wali Kota Tangerang Benyamin Davnie dan acara seminar jender dihadiri oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Tangsel Apendi,” kata Dedi.


Sejauh pengamatan Kompas, aktivitas di Kantor Pemerintahan Kota Tangsel tampak normal meski Airin tidak ada di kantor tersebut. Di lahan parkir kantor yang terletak di kawasan Setu itu penuh. Kendaraan roda empat dan roda dua memenuhi halaman perkantoran tersebut.


Akil diperiksa


Pemeriksaan kasus dugaan suap penyelesaian sengketa pilkada di MK juga dilakukan terhadap Akil. Ia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Susi Tur Andayani, pengacara Bupati Gunung Mas, Hamid Bintih, yang diduga menyuap Akil.


Karena suap untuk penyelesaian sengketa pilkada di MK diduga tidak hanya di Lebak dan Gunung Mas, penyidik juga memanggil saksi dari daerah lain. Kemarin, KPK juga memeriksa Ketua KPU Palembang, Sumatera Selatan, Eftiyani.


Efti satu-satunya saksi dari luar Jawa yang memenuhi panggilan KPK. Ketua KPU Empat Lawang, Muroimin Zahri, dan Bupati Buton Samsu Umar AS tidak datang ke KPK. (fa/kompas)