• Search
  • Menu

SBY: Harga Revolusi Sangat Tinggi

fa | Rabu, 11 Desember 2013 - 13:45 WIB | 721 Views



Perubahan itu keniscayaan. Kalau ada risiko, mungkin instabilitas, guncangan atau resistensi terhadap perubahan itu, segala sesuatunya telah dikalkulasikan


Jakarta, baranews.co - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, perubahan di suatu negara tidak ditabukan sepanjang memiliki kepentingan dan urgensi untuk sebuah kebaikan. Perubahan harus dilaksanakan dengan cara dan proses yang tepat.


"Perubahan itu keniscayaan. Kalau ada risiko, mungkin instabilitas, guncangan atau resistensi terhadap perubahan itu, segala sesuatunya telah dikalkulasikan," kata Presiden saat menyampaikan pidato kunci pada Kongres Kebangsaan di Jakarta, Rabu (11/12).


Kongres Kebangsaan yang berlangsung 10-11 Desember 2013 melahirkan “Komitmen Jakarta” yang berisi delapan butir kesepakatan jajaran pemimpin redaksi (Pemred) se Indonesia. "Komitmen Jakarta" dibacakan Ketua Forum Pemred, Nurjaman Mochtar.


Presiden mengatakan, ide perubahan hampir pasti mendapatkan penolakan, resistensi, dan ketidaksetujuan. Namun, di saat suatu bangsa sepakat untuk melakukan pembaruan dan perubahan, maka tidak perlu gentar meskipun ada elemen-elemen yang tidak setuju, melawan perubahan itu.


Menurut Presiden, ide perubahan tercermin pada keberadaan Indonesia. Sejak didirikan pada 1945, negara itu telah mengalami koreksi sejarah, yang berujung pada perubahan dramatis.


"Perubahan yang dramatis dan revolusioner itu, korban dan harganya sangat tinggi," kata Presiden.


Dia mencontohkan, perubahan dramatis terjadi ketika negeri ini baru merdeka selama 20 tahun. Pada 1965-1966 terjadi krisis yang diikuti perubahan yang dramatis dan fundamental.


Sekitar 30 tahun kemudian, pada 1998, 1999, dan 2000 kembali terjadi perubahan fundamental yang disertai krisis dan guncangan hebat di negeri ini.


"Negeri kita pada 15 tahun lalu banyak yang meramalkan akan bubar, jatuh seperti Balkan di Eropa Timur. Kita tidak boleh menghalang-halangi terjadinya hukum alam yaitu, perubahan dan pembaruan. Perubahan perlu senantiasa dilakukan," katanya.


Pada kesempatan itu, Presiden menjelaskan bahwa ada dua tipe manusia. Pertama adala manusia yang senang perubahan.


"Boleh dikata tiada hari tanpa perubahan. Mengubah dan mengubah," kata Presiden.


Tipe yang kedua, kata Presiden, adalah mereka yang antiperubahan. "Buat apa diubah? Sudah baik, jangan cari-cari,"kata Presiden.


Dia mengatakan, di negara mana pun selalu ada benturan di antara kedua kubu. Terutama kaum ekstrem di masing-masing kubu.


"Mudah-mudahan, kita semua yang ada di ruangan ini, memiliki pemikiran jernih," ujar SBY.


Presiden juga bertutur tentang pengalamannya baik dalam suka maupun duka selama sembilan tahun memimpin negeri ini.


"Tepat kalau saya berbagi (sharing) dengan Saudara-saudara, yang menurut pandangan saya sudah baik, yang kita jalankan tetapi perlu kita pikirkan kembali bahwa negeri ini diharapkan makin ke depan, makin baik," kata Presiden. (fa/B1)