• Search
  • Menu

Radjiman, Dokter Rakyat dan Tokoh Pergerakan

Iluni | Rabu, 11 Desember 2013 - 15:56 WIB | 2565 Views



Dokter pejuang yang rendah hati dan berjiwa sosial tinggi ini wafat tanggal 20 September 1952. Dimakamkan di Desa Mlati, Sleman Yogyakarta, dekatmakam Dr.Wahidin Sudiro Husodo


Pengabdian Mas Radjiman saat menjadi dokter pemerintah, memungkinkan
untuk bersentuhan langsung dengan rakyat kecil. Kesamaan nasib semasa
kecil yang hidup di keluarga biasa membuatnya mampu menangani
penderitaan para pasiennya. Melalui pendekatan budaya, ia mampu
mempraktekan ilmu pengobatan moderen kepada rakyat kecil yang masih
sulit menerimanya ketika itu. Penderitaan hidup dan keterbelakangan
masyarakat pribumi itu menumbuhkan jiwa kebangsaan dalam dirinya yang
kemudian mengikuti jejak "guru besarnya", Dr Wahidin Sudirohusodo, untuk
memperjuangkan nasib pribumi.

Dalam buku "Dokter-Dokter UI" yang diterbitkan ILUNI FKUI tahun 2010, ia
tercatat dengan nama Mas Radjiman. Bukan keturunan bangsawan, ia adalah
putra dari seorang penjaga sebuah toko kecil di Yogyakarta bernama Ki
Sutodrono dan ibunya adalah seorang wanita berdarah Gorontalo.
Pendidikannya dimulai dengan model pembelajaran hanya dengan
mendengarkan pelajaran di bawah jendela kelas saat mengantarkan putra
Dr. Wahidin Soedirohoesodo ke sekolah, kemudian atas belas kasihan guru
Belanda disuruh mengikuti pelajaran di dalam kelas. Karena kecerdasannya
dan juga bantuan dari Dr. Wahidin, Mas Radjiman dapat melanjutkan
sekolah Dokter Djawa dan lulus tahun 1898 pada usia 19 tahun.

Putra bangsa kelahiran Yogyakarta, 21 April 1876, ini kemudian mengabdi
sebagai dokter di Banyumas, Purworejo dan Semarang. Belum puas dengan
gelar dokter Jawa, ia melanjutkan ke STOVIA di Jakarta sampai meraih
gelar Indisch Art (dokter pribumi) tahun 1904. Setelah bekerja di
Lawang, Jawa Timur, pada tahun 1906 ia melanjutkan ke Sekolah Dokter
Tinggi, Amsterdam, sampai meraih gelar Arts (dokter) tahun 1910. Dengan
keberhasilan ini, ia mencapai kedudukan yang sejajar dengan para dokter
bangsa Belanda.

Pengabdian Mas Radjiman saat menjadi dokter pemerintah, memungkinkan
untuk bersentuhan langsung dengan rakyat kecil. Kesamaan nasib semasa
kecil yang hidup di keluarga biasa membuatnya mampu menangani
penderitaan para pasiennya. Melalui pendekatan budaya, ia mampu
mempraktekan ilmu pengobatan moderen kepada rakyat kecil yang masih
sulit menerimanya ketika itu. Penderitaan hidup dan keterbelakangan
masyarakat pribumi itu menumbuhkan jiwa kebangsaan dalam dirinya yang
kemudian mengikuti jejak "guru besarnya", Dr Wahidin Sudirohusodo, untuk
memperjuangkan nasib pribumi.

Mas Radjiman kemudian ikut berperan dalam berdirinya Budi Utomo dan
kemudian dipercaya sebagai ketuanya pada tahun 1914 hingga tahun 1915.
Ketika memimpin Budi Utomo, ia membuat manuver dengan mengusulkan
pembentukan milisi rakyat disetiap daerah di Indonesia. Dan itulah
pertama kali bangsa Indonesia memiliki kesadaran untuk memiliki tentara
rakyat. Manuvernya dijawab Belanda dengan kompensasi membentuk Volksraad
(dewan rakyat) dan dr. Radjiman masuk di dalamnya sebagai wakil dari
Boedi Utomo.

Ketika masyarakat kabupaten Ngawi terserang wabah pes tahun 1934, Mas
Radjiman memilih menetap dan tinggal di tengah-tengah masyarakat Ngawi
Jawa Timur untuk mengabdikan diri sebagai dokter ahli penyakit pes.
Selain itu Mas Radjiman juga berusaha memberdayakan dukun bayi di Ngawi
untuk mencegah kematian ibu saat melahirkan dan juga bayinya. Ia sangat
peduli terhadap kesehatan masyarakat, terutama mereka yang tidak mampu.
Ia kemudian juga diangkat menjadi dokter keraton Surakarta dan mendapat
gelar kehormatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dengan tambahan nama
belakang Wedyodiningrat.

Tinggal di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, rumah Mas
Radjiman berjarak hanya sekitar 1,5 Km dari stasiun kereta api
Walikukun. Memanfaatkan jasa transportasi kereta api, tokoh pergerakan
ini sering bolak-balik Jakarta-Ngawi untuk menghadiri rapat-rapat di
Volksraad ataupun pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya.

Ketika Jepang masuk Indonesia, Volksraad dibubarkan. Jepang berjanji
bahwa Indonesia akan dimerdekakan dan kemudian membentuk Badan
Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau
Dokuritsu zumbi Coosakai. BPUPKI dibentuk untuk mempelajari dan
menyelidiki hal-hal penting untuk mendirikan negara Indonesia merdeka.

Mas Radjiman ditunjuk menjadi ketua didampingi dua orang ketua muda,
yaitu Raden Panji Soeroso dan Hibangase Yosio. Di luar anggota BPUPKI,
dibentuk sebuah Badan Tata Usaha (semacam sekretariat) yang
beranggotakan 60 orang. Badan Tata Usaha ini dipimpin oleh Raden Panji
Soeroso, dengan wakil Abdoel Gafar Pringgodigdo dan Masuda (orang Jepang).

Sidang resmi pertama BPUPKI berlangsung lima hari, yaitu 28 Mei sampai 1
Juni 1945. Pada sidang tersebut, Mas Radjiman mengajukan pertanyaan,
"Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?" Pertanyaan itu dijawab
oleh Soekarno tentang dasar negara yang dinamakan Pantja
Sila---sebagaiman yang ditulis Mas Radjiman dalam pengantar buku
"Lahirnya Pancasila":

Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh "Lahirnya Pancasila"
ini, akan temyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu
Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie
Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam
jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan,
meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah
Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin
dikekang-kekang!

Sidang resmi kedua BPUPKI berlangsung 10-17 Juli 1945 dengan tema
bahasan bentuk negara, wilayah negara, kewarganegaraan, rancangan
Undang-Undang Dasar, ekonomi dan keuangan, pembelaan negara, pendidikan
dan pengajaran. BPUPKI kemudian dibubarkan dan kemudian dibentuk Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dengan Ketua Ir.Soekarno dan
wakil Drs.Mohammad Hatta, sedangkan Mas Radjiman duduk sebagai salah
seorang anggota.

Menyusul kekalahan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya, Mas Radjiman
bersama Soekarno dan Hatta berangkat ke Da Lat (Vietnam) untuk bertemu
dengan Marsekal Terauchi—Panglima Pasukan Jepang di Asia Tenggara. Dari
Marsekal Terauchi itulah para Bapak Bangsa ini menerima kabar gembira:
kemerdekaan Indonesia sudah diambang pintu.

Pada awal kemerdekaan, ia menjadi anggota KNIP (Komite Nasional
Indonesia Pusat) dan kemudian anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik
Indonesia. Dalam perkembangannya, seluruh badan perwakilan, baik yang
didirikan RI maupun Belanda digabung dalam DPR-RI. Sebagai anggota
tertua, mendapat kehormatan memimpin rapat pertama lembaga itu. Pada
tahun 1950-1952 menjadi anggota DPR di Jakarta. Walaupun telah berusia
lanjut, pikirannya masih jernih sehingga diangkat sebagai Sesepuh.

Dokter pejuang yang rendah hati dan berjiwa sosial tinggi ini akhirnya
wafat tanggal 20 September 1952. Jenazahnya dimakamkan di Desa Mlati,
Sleman Yogyakarta, berdekatan dengan makam Dr.Wahidin Sudiro Husodo yang
telah membesarkannya.


 


Sumber: iluni.net