NELSON Mandela, memang, orang besar. Dalam bahasa Presiden AS Barack Obama, ”Mandela adalah simbol; simbol untuk keadilan, persamaan hak, dan martabat.” Dia tidak hanya tokoh besar yang membebaskan Afrika Selatan dari kebijakan dan politik yang tidak manusiawi, tetapi juga ”tokoh besar dalam sejarah umat manusia”.


Masuk akal kalau kemudian puluhan ribu orang, hari Selasa lalu, berbondong-bondong menuju stadion sepak bola di Soweto, Afrika Selatan—yang memiliki daya tampung 95.000 orang—untuk memberikan penghormatan terakhir. Hujan yang turun begitu deras, tak sejengkal pun membuat ribuan orang yang menyemut, menuju stadion sepak bola, menarik mundur langkah kaki mereka. Hanya satu tujuan: memberikan penghormatan terakhir kepada ”Bapak Besar” mereka, yang oleh cucunya digambarkan seperti komet. ”Kakek, engkau menjulang tinggi mengatasi dunia seperti komet, yang meninggalkan goresan cahaya di langit untuk kami ikuti.”


Ya, Mandela adalah cahaya; cahaya yang memberikan terang atas kegelapan di Afrika Selatan selama politik apartheid, dan juga memberikan terang kepada dunia, tentang betapa pentingnya pengampunan, serta menyingkirkan dendam. Karena itulah, sangat masuk akal pula kalau para pemimpin negara dan pemerintahan—presiden, wakil presiden, perdana menteri, raja, putra mahkota, mantan presiden—dan juga para selebritas dunia, tokoh masyarakat, politisi, dan para tokoh-tokoh agama dari seluruh penjuru dunia berdatangan ke Soweto.


Inilah upacara penghormatan terakhir, paling besar dalam abad ini. Pada tahun 2005, masyarakat dunia terkagum dan tergetar ketika menyaksikan upacara pemakaman Paus Yohanes Paulus II yang dihadiri lebih dari 70 pemimpin negara dan pemerintahan.


Akan tetapi, di Soweto kemarin 90 pemimpin negara dan pemerintahan hadir memberi penghormatan terakhir. Paling kurang ada 53 presiden, 18 perdana menteri, sejumlah raja, sejumlah putra mahkota, sejumlah wakil presiden, mantan presiden, dan mantan perdana menteri. Pada hari pemakamannya, hari Minggu nanti, diperkirakan masih ada 60 kepala negara dan pemerintahan yang akan hadir. Diperkirakan upacara pemakaman besok akan lebih besar dibanding pemakaman Lady Di, Michael Jackson, bahkan Paus Yohanes Paulus II.


Mandela memang orang sangat terhormat; orang besar dalam kesederhanaannya. Dan karena itu, ibarat pepatah, de mortuis nihil nisi bene, tentang yang sudah meninggal, tak ada dikatakan kecuali yang baik. Yang baik-baik dari Mandela itulah yang menggerakkan para pemimpin negara dan pemerintahan dari segala penjuru dunia datang ke Soweto. Namun, Indonesia yang memperoleh tempat istimewa di hati Mandela cukup mengirimkan seorang menteri, yakni Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono.


Oleh: