POLA pengelolaan data dan informasi pada newsroom kini mulai berubah untuk mengimbangi media sosial. Untuk itu diterapkan konsep Data-Driven Journalism yang menyajikan paket berita multimedia secara cepat, efisien, dan murah.

Konvergensi media yang diwujudkan dalam newsroom diperkenalkan 11 tahun lalu oleh World Association of Newspapers and News Publishers (WAN-IFRA). Fasilitas yang disebut Newsplex ini dibuka di Universitas South Carolina, Amerika Serikat, November 2002. Ide yang disebut newsroom konvergen ini untuk mendukung industri pemberitaan.


Namun, konsep ini sesungguhnya telah digagas tahun 1990-an ketika terjadi perpaduan media dengan teknologi multimedia. Dengan teknologi ini berbagai informasi dalam bentuk teks, audio, dan visual dapat dipertukarkan untuk penyiaran media cetak, elektronik (audio dan video), serta online. Dengan fasilitas ini jurnalis juga dapat menggabungkan dan mendiseminasikan informasi pada beragam platform ke sistem operasi berbasis web.


Lebih cepat dan efisien

Pengelolaan terpusat ini memungkinkan proses pengolahan dan penyampaian berita pada sistem multimedia berlangsung lebih cepat, efisien, dan efektif dibandingkan dengan proses pengelolaan media cetak dan elektronik yang dijalankan secara terpisah.


Pengolahan data dan informasi di newsroom kemudian terus dikembangkan dengan berbagai platform dan peranti lunak baru untuk menaikkan nilai tambah informasi itu. Hal ini diperkenalkan dalam workshop jurnalis di Newsplex Asia Singapura pada 19-21 November 2013 yang diselenggarakan Asia Pacific Resources International Limited (APRIL)/Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Workshop ini bertema ”Konvergensi Berita sebagai Keterampilan Jurnalis Masa Kini”.


Newsplex Asia tepatnya berada di Wee Kim Wee School of Communication and Information, Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Fasilitas ini dibuka 6 Oktober 2012 melalui kemitraan NTU dengan WAN-IFRA.


Newsplex Asia merupakan fasilitas pelatihan newsroom yang ketiga di dunia dan yang pertama di Asia. Pelatihan di pusat ini difokuskan pada konvergensi media jurnalisme serta pengembangan dan penerapan strategi newsroom terpadu.


Data yang digunakan di Newsplex bersumber dari jaringan internasional milik WAN-IFRA yang terdiri dari lebih dari 18.000 publikasi, 15.000 situs online, dan lebih dari 3.000 perusahaan di lebih dari 120 negara.


Pengaruh media sosial

Bagi jurnalis, selain sumber berita berbayar, ada beberapa situs web yang gratis di internet, seperti Google, dan memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Youtube. Lau Joon Nie, Asisten Direktur Newsplex Asia, pada workshop tersebut menjelaskan tentang penggunaan perkakas penelusuran langsung (online search tools) dan media sosial itu.


Di antara jaringan situs web sosial di dunia, Facebook merupakan yang terbanyak penggunanya, yaitu mencapai 60,1 persen, diikuti Youtube (22,9 persen) dan Twitter (1,86 persen). Indonesia yang memiliki pengguna jaringan sosial sebanyak 48 juta orang berada di peringkat ketiga setelah China (598 juta) dan India (68 juta). Untuk Facebook saja, menurut data Januari 2013, Indonesia berada di peringkat ketiga setelah Brasil dan India. Jumlahnya mengalami kenaikan 2,37 persen per tahun.


”Keberadaan media sosial ini merupakan tantangan bagi industri media massa,” ujar Wilson Peng, Asisten Profesor di Wee Kim Wee School of Communication and Information NTU Singapura.


Saat ini penyampaian informasi lewat Twitter lebih cepat dibandingkan dengan media cetak, bahkan dengan kantor berita atau media online. ”Namun, jurnalis dapat menyaingi karena memiliki kelebihan dibandingkan dengan komunitas di media sosial, yaitu pada kemampuan analisis dan mengonvergensi berita, baik teks, foto, audio, maupun video,” ujar Wilson Peng.


Jurnalistik naratif

Sementara itu, Lau yang pernah menjadi editor di Channel NewsAsia, SBC News, dan TCS News mengatakan, selain harus mampu menyatukan platform cetak, radio, TV, dan online, para editor hendaknya mengembangkan jurnalistik naratif sehingga tampilan dari tiap media tersebut dapat saling melengkapi dalam satu uraian berita atau cerita.


Agar dapat terus berkiprah dalam era web, jurnalis media tradisional harus beradaptasi dengan menggunakan internet sebagai outlet kedua dan menggunakan hyperlink yang menyediakan informasi pendukung.


Dalam pencarian sumber berita, Lau berpendapat, Google, yang terbanyak diakses di dunia, dapat membantu karena di dalamnya ada beberapa fitur seperti Advanced Search, Hangouts, Trends, dan Translate yang dapat digunakan untuk melengkapi dan memperkaya berita.


Media sosial seperti Facebook dan Twitter dapat membantu mendistribusikan konten, menggalang pelanggan, dan sebagai sarana pengumpulan isu berita. Selain itu, ada fitur terbaru seperti Google+, Hangouts, dan Social Graph di Facebook dan implikasinya perlu juga dipantau.


Untuk dapat bersaing dengan media sosial, menurut Wilson, para jurnalis perlu menerapkan konsep Data-Driven Journalism atau jurnalisme berbasis data. Hal ini didukung terjadinya ledakan data dan informasi baik yang berasal dari pemerintah, termasuk dari media sosial.


”Dengan melakukan penyaringan data, analisis, dan visualisasi data, informasi yang disajikan untuk publik akan lebih komprehensif dan mudah dipahami,” ujarnya.


Sumber data diperoleh dari survei, data sumber terbuka, dan data dari media sosial. Penyaringan diperlukan karena data tak terstruktur dan kualitasnya beragam. Visualisasi bertujuan untuk memperkaya isi berita, menjelaskan suatu proses, menampilkan pola, dan menjelaskan lokasi.


Visualisasi terdiri atas ilustrasi pendukung berupa infografis yang variatif yang terdiri dari tabel, grafis skala, geografis, dan sketsa. Peranti lunak aplikasi untuk visualisasi data dapat diperoleh di web secara gratis. Ada 10 perkakas yang dapat
menolong jurnalis bekerja lebih baik dan efisien, di antaranya adalah Google Spreadsheet Timetric dan IBM Many Eyes yang menampilkan grafik statistik, waktu, semantik, teks, dan jaringan.


Sementara itu, untuk menunjukkan lokasi atau letak dapat menggunakan Google Earth, Google Maps, dan Zeemaps. Untuk visualisasi menggunakan Gerphi (https://gerphi.org), iCharts, Wolfram Alpha, Visualize Free, dan Data Wrangler.


”Lewat pemaparan berita atau tulisan berbasis data dan visualisasi inilah media cetak bisa bersaing dengan media sosial,’’ ujar Wilson.


Wilson memperkirakan, dalam satu dasawarsa mendatang hingga tahun 2020 diprediksi akan muncul Big-Data Journalism dan Open-source Journalism.


Begitulah prediksinya....


Penulis: Yuni Ikawati (Kompas)