• Search
  • Menu

Mahasiswa UI Buat Bioetanol dari Limbah Agraria

sm | Kamis, 12 Desember 2013 - 16:02 WIB | 1026 Views



Menurut Siska Yulian Sari angkatan 2011 jurusan Biologi Fakultas MIPA UI, biasanya bioetanol tersebut dibuat dari bahan pangan dari jagung atau pangan lainnya yang juga dikonsumsi manusia

Jakarta, baranews.co - Semakin langkanya Bahan Bakar Minyak, membuat tiga mahasiswa jurusan Biologi UI untuk menciptakan bahan bakar alternatif dari bioetanol. Dari hasil limbah agraria, Tiga mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (MIPA UI) tersebut meneliti bakteri yang bisa dijadikan bahan dasar pembuatan bioetanol sebagai sumber energi terbarukan.

Menurut Siska yulian Sari angkatan 2011 jurusan Biologi Fakultas MIPA UI, biasanya bioetanol tersebut dibuat dari bahan pangan dari jagung atau pangan lainnya yang juga dikonsumsi manusia, "kami coba kembangkan penelitian agar bisa membuatnya dari limbah pertanian yang tidak terpakai untuk pangan. Misalnya seperti tandan kosong kelapa sawit, tangkai jagung, tangkai tebu, dan jerami padi," katanya.

Bersama Abinubli Tariswafi M dan Ricky Karta Atmadja, angkatan 2010 jurusan biologi Fakultas MIPA UI, ereka meneliti keberadaan dan jenis bakteri termofilik penghasil enzim lignoselulase dari geyser di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat. "Kami lakukan penelitian mengenai daya degradasi bakteri tersebut agar bisa diaplikasikan pada pembuatan bioetanol yang lebih efisien," ujar Siska menjelaskan.

Diambilnya bakteri dari Cisolok tersebut, menurut Abinubli yang merupakan ketua tim, karena salah satu geyser di Indonesia tersebut masih aktif menyeburkan air panas dengan suhu diatas 90 derajat Celcius. Selain itu, mereka juga ingin mengambil sumber daya dari Indonesia.

"Kami ingin mengekplorasi manfaat dari sumber daya alam sendiri sehingga kita melepaskan diri dari ketergantungan impor," katanya.

selain memiliki limbah lignoselulosa yang berlimpah untuk bahan baku bioetanol, Indonesia juga memiliki keanekaragaman mikroorganisme, terutama bakteri, yang belum sepenuhnya diketahui keberadaan dan manfaatnya.

"Padahal, tiap-tiap mikroorganisme memiliki peran penting bagi ekosistem, dan beberapa diantaranya bahkan memiliki nilai ekonomi yang penting sehingga memicu perkembangan bioteknologi," ungkapnya.

Diharapkan, dari penelitian ini dapat ditemukann bakteri termofilik penghasil enzim lignoselulase yang termostabil pada suhu tinggi dan enzim tersebut mampu mendegradasi lignoselulosa pada suhu tinggi. Dengan demikian dapat diaplikasikan secara bersamaan dengan proses perlakuan awal konversi lignoselulosa menjadi bioetanol menggunakan suhu tinggi secara efisien.(sm/sat)