BERKIPRAH di bidang neurosains sekitar 16 tahun di Jepang dan Amerika Serikat, Irawan Satriotomo (45), yang kini menjadi peneliti utama di Universitas Florida, AS, menyebut dirinya mulai ”pulang kampung”. Meskipun belum sepenuhnya tinggal lagi di Indonesia, Irawan memiliki misi yang lebih jelas untuk negerinya, yakni mengembangkan neurosains yang belum berkembang di Indonesia.

Irawan memimpikan Indonesia bisa menjadi barometer pengembangan neurosains di dunia. Dia mulai menemukan jalan dengan bergabung di Surya University yang digagas fisikawan Indonesia, Yohanes Surya. Sejak tahun 2012, Irawan menjadi Direktur Indonesia Brain Research Center (IBRC) Surya University.


Secara fisik, Irawan memang lebih banyak berada di Florida. ”Saya tetap berada di AS supaya bisa mengembangkan jaringan internasional. Cara ini juga lebih menguntungkan untuk pengembangan neurosains di Indonesia. Pengembangan IBRC di Indonesia tetap saya kerjakan serius. Dengan memanfaatkan teknologi internet dan Skype, saya tetap bisa bekerja untuk IBRC,” katanya.


Irawan, peraih lima penghargaan internasional, mengatakan, penelitian neurosains di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, penting untuk mengatasi penyakit neurodegeneratif. Sayangnya, neurosains belum berkembang dan jauh tertinggal dari negara-negara lain. Padahal, penyakit neurodegeneratif yang berhubungan dengan kerusakan sel-sel saraf cukup berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.


Penyakit neurodegeneratif merupakan penyakit progresif dari sistem saraf yang berhubungan dengan kerusakan sel-sel saraf, yang mempunyai banyak fungsi, mulai dari pengendalian gerakan, akuisisi pengolahan informasi sensorik, pengambilan memori, hingga pembuatan keputusan.


Kematian saraf atau neurodegenerasi merupakan masalah utama dalam berbagai penyakit saraf, seperti stroke, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), alzheimer, parkinson, penyakit huntington, dan multiple sclerosis, serta cord injury spinal atau kerusakan sumsum tulang akibat kecelakaan kendaraan bermotor.


Irawan menjelaskan, tujuan utama IBRC untuk mengaplikasikan penelitian neurosains dari meja penelitian ke pasien.


”Kami melakukan penelitian yang berguna untuk mengatasi penyakit neurodegeneratif,” kata Irawan yang juga menjadi editorial board dan ad hoc reviewer di sejumlah jurnal ilmiah internasional.


Menurut Irawan, beberapa negara telah melihat masalah penyakit neurodegeneratif ini sebagai suatu masalah yang menantang di masa depan, terutama di bidang kesehatan. Negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, misalnya, telah mengambil langkah serius dengan menganggarkan separuh dari anggaran kesehatan untuk difokuskan sebagai upaya preventif dan penanganan serta penelitian penyakit neurodegeneratif.


”Saya optimis dengan pengembangan neurosains di Indonesia di masa depan,” kata ayah satu anak ini.


Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, ujar Irawan, memberi angin segar bagi pengembangan neurosains. Sebagai contoh, dengan perkembangan sel punca dan regenerative medicine, penyakit-penyakit yang dahulu mungkin punya prognosis yang kecil untuk diobati atau tidak mungkin disembuhkan sekarang muncul banyak harapan.


Suka tantangan

Optimisme Irawan dalam pengembangan neurosains di Indonesia yang memang menjadi minatnya sejalan dengan kehidupan Irawan yang suka tantangan. Dia memilih untuk menimba ilmu di luar negeri, melepas karier sebagai dokter dan dosen di Indonesia, karena merasa tertantang untuk mencari jawaban dari anggapan umum soal penyakit saraf yang tidak mungkin diobati.


Pada 1997, Irawan pun bertolak ke Jepang dan belajar di Kagawa Medical University untuk mengambil S-3 di bidang neurobiology atau neuroscience. Saat itu, bidang ini masih sedikit yang meminati.


Meski di Jepang memiliki karier yang bagus, Irawan pada 2005 menerima tawaran untuk pindah ke AS. Dia bergabung sebagai assistant research professor di Universitas Wisconsin-Madison.


”Penelitian di AS lebih berkembang, baik untuk karier maupun dari segi pendanaannya,” ungkap Irawan.


Kesukaannya pada tantangan baru jugalah yang membuatnya tidak ragu bergabung dengan Surya University, dengan fokus utama untuk mengembangkan neurosains di Indonesia. Irawan akhirnya mantap menerima ”lamaran” Yohanes Surya saat bertemu dalam acara Pertemuan Puncak Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Jakarta pada 2010.


Meniru apa yang dilakukan Singapura, untuk pengembangan IBRC, Irawan juga melibatkan peneliti asing. Ia mempekerjakan peneliti dari Jepang, India, dan Kanada.


Ubah paradigma

Membangun penelitian di Indonesia, apalagi neurosains yang belum berkembang, bukanlah hal mudah di Indonesia. Irawan sadar betul iklim penelitian di Indonesia belum memuaskan, berbeda dengan di Jepang dan AS.


Bagi Irawan, iklim penelitian di Indonesia yang belum kondusif lagi- lagi dianggap sebagai tantangan. Irawan berkeinginan untuk mengubah paradigma penelitian di kalangan ilmuwan, perguruan tinggi, perusahaan, dan masyarakat.


”Hambatan utama dalam penelitian di Indonesia mulai dari regulasi, sumber daya manusia, hingga pendanaan,” kata Irawan.


Mengubah paradigma yang dimaksud Irawan misalnya soal dukungan penelitian dari masyarakat. Di Indonesia, yang masyarakatnya suka memberikan dana untuk zakat atau perpuluhan atau sumbangan keagamaan lainnya, dapat didorong untuk mulai memanfaatkannya bagi penelitian.


”Kita berpikir sedekah untuk fakir miskin. Padahal, untuk mendukung penelitian juga besar manfaatnya karena bisa mengobati orang-orang yang terkena penyakit,” ujar Irawan.


—————————————————————————

Irawan Satriotomo


Lahir: Semarang, 30 Juli 1968 

Istri: Sri Hastuti  (41)

Anak: Naila Salsabila (5)

Pendidikan:

- Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (1995)

- S-3 Kagawa Medical University, Jepang (2002)

Penghargaan dan prestasi:

- National Institute of Health Postdoctoral Fellow dari Universitas Wisconsin, AS (2004-2005)

- Travel Grant, American Association for the Advancement of Science (AAAS) meeting Denver dari Kagawa Medical University (2003)

-  Research Assistant Fellowship dari Kagawa Medical University (2000-2002)

- Teaching Assistant Fellowship dari Kagawa Medical University (2000-2002)

- Japanese Government Scholarship (1997-2002)

Pengalaman mengajar dan riset:

- Peneliti utama di Universitas Florida, AS (2012-sekarang)

-  Direktur IBRC Surya University, Indonesia (2012-sekarang)

- Visiting Professor di UTM Malaysia (2011)

- Assistant Research Professor di Universitas Wisconsin, AS (2005-2008)

- Visiting Professor di Universitas Tokushima, Jepang (2003-2004)

- Asisten Profesor di Universitas Kagawa, Jepang (2002-2004)

- Dosen di Oawasa Iryou College, Jepang (1998-2002)

- Dosen di Shikoku College, Jepang (1998-2002)

- Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1995-1997)

Penulis: Ester Lince Napitupulu  (Kompas)