• Search
  • Menu

Perjuangan Ibu Mengantar Anaknya dengan Kursi Roda ke Sekolah

| Sabtu, 08 Oktober 2016 - 05:29 WIB | 480 Views



Kasih ibu sepanjang masa bukan hanya sekadar ungkapan untuk menggambarkan rasa sayang kepada anaknya.

SAMARINDA, Baranews.co – Kasih ibu sepanjang masa bukan hanya sekadar ungkapan untuk menggambarkan rasa sayang kepada anaknya. 


Di Samarinda, Kalimantan Timur, seorang ibu bernama Lina Wati membuktikannya. 


Dengan nyata ibu berhati malaikat ini terus mendukung anaknya untuk menuntut ilmu. 


Dia tak pernah menyerah memberikan sokong pada sang anak Nisa menempuh pendidikan.


Perjuangan Lina sebenarnya sangat berat karena Nisa tidak bisa berjalan. Namun, dia tak mau menyerah.


Lina rela mendorong Nisa dengan kursi roda setiap sang anak berangkat dan pulang sekolah.


Jangan pernah membayangkan Lina melakukannya dengan mudah.


Dia harus mengantar Nisa ke SMP 22 Samarinda  yang berjarak dua kilometer dari rumah. Hal itu dilakukan setiap hari.


Saat Nisa belajar, Lina memilih menunggu di luar sampai bel tanda berakhirnya pelajaran berdentang.


Kaltim Post (Jawa Pos Group) berkesempatan menemui keluarga Lina, Rabu (5/10). Saat itu, Kaltim Post disambut Abdul Rahman, ayah Nisa dengan hangat.


Abdul pun menceritakan tragedi yang menimpa sang anak. Semua bermula 13 tahun silam.


Ketika itu, Nisa masih satu tahun. Dia terjatuh dari ayunan. Kejadian itu menimbulkan bekas di tubuh Nisa.


Namun, Abdul dan Lina tak bisa berbuat banyak karena keterbatasan dana.


“Saya hanya membawanya ke puskesmas atau ke tukang urut,” ucap Abdul.


Tim medis puskesmas tak menemukan penyakit berbahaya di tubuh Nisa.


Tapi, Nisa tak bisa berjalan. Puskesmas pun menyarankan agar Nisa dioperasi.


Lagi-lagi, Abdul terkendala dana. “Saya hanya buruh di toko sembako,” tutur Abdul.


Dalam sehari, Abdul mendapat upah Rp 70 ribu. “Untuk keperluan hidup saja tak cukup,” ujarnya.


Selama ini, lanjut dia, bantuan yang diterima hanya dari Dinas Sosial Samarinda berupa kursi roda.


Bantuan itu pun karena salah satu pegawai Dinas Sosial Samarinda tidak sengaja melihat Nisa.


Dia mengaku memang tidak memiliki jaminan kesehatan masyarakat tidak mampu.


Sementara itu, Nisa tak tega melihat perjuangan sang ibu.


“Kasihan. Adik-adik saya ditinggal. Kadang dititipkan kepada bapak yang sedang bekerja. Untung atasan bapak tidak pernah marah,” ucapnya. (jpnn.com/hp)