• Search
  • Menu

Jaga Mikrobiota di Perut demi Pencernaan dan Mental Sehat

| Jumat, 21 Oktober 2016 - 09:46 WIB | 396 Views



Ketika susah menurunkan berat badan, kita cenderung menyalahkan sesuatu yang di luar kontrol.

Jakarta, Baranews.co - Ketika susah menurunkan berat badan, kita cenderung menyalahkan sesuatu yang di luar kontrol. Padahal bisa saja penyebabnya adalah mikrobiota, bakteri dan organisme lain yang hidup dalam organ pencernaan.

Para pakar dari Universitas New South Wales di Australia membenarkan adanya triliunan mikroorganisme yang bekerja di dalam perut. Kepada The Conversation, mereka menjelaskan bagaimana bakteri di perut mempengaruhi kebiasaan makan dan berat badan kita.

Ada triliunan mikroorganisme dalam perut. Mereka menjadi kunci dari produksi energi dari makanan, pengaturan fungsi kekebalan tubuh, sampai menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Komposisi mikrobiota di perut sebagian tergantung keturunan dan sebagian lagi dipengaruhi faktor gaya hidup, seperti pola makan, konsumsi alkohol, olahraga, dan pengobatan. Bakteri tersebut menyerap energi untuk berkembang dari nutrisi makanan yang masuk ke perut. 


Jadi, apa yang kita makan sangat mempengaruhi bakteri di perut. Salah satu peran penting mikrobiota adalah mengubah karbohidrat yang tidak tercerna menjadi rangkaian pendek asam lemak, yang membantu metabolisme dan juga penting untuk menjaga kesehatan sel-sel di usus besar.

Perubahan pola makan bisa dengan cepat mengubah mikrobiota di perut. Secara umum, makanan berserat tinggi dengan kandungan lemak jenuh dan gula rendah dikaitkan dengan mikrobioma yang lebih sehat. 

Sebaliknya, makanan dengan lemak jenuh dan gula tinggi serta rendah serat berdampak buruk pada mikroba dan juga jelek buat kesehatan. Semua fakta tersebut sudah terbukti terjadi pada hewan yang dijadikan percobaan.

Selain menjaga kesehatan pencernaan, ada bukti lain bahwa mikrobiota di perut juga bisa mempengaruhi suasana hati. Beberapa penelitian sudah membuktikan bahwa depresi terkait dengan perubahan mikrobioma perut pada manusia. hanya saja, masih perlu penelitian lebih dalam untuk memperkuat pembuktian itu. (tempo.co/hp)