• Search
  • Menu

Hillary Nikmati Keunggulan Perolehan Suara di Beberapa ''Swing State''

| Senin, 31 Oktober 2016 - 08:48 WIB | 416 Views



Keunggulan Hillary di Pemilu AS, menurut proyek States of the Nation, sedikit turun dari pekan lalu

Hillary Clinton dan Donald Trump dalam debat kedua mereka sebagai kandidat Presiden AS pada Minggu (9/10/2016) malam waktu setempat di Universitas Washington, St Louis, Missouri, AS (Repro: kompas.com/CNN).


 


NEW YORK, Baranews.co - Beberapa hari menjelang pemilihan Presiden AS, calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton mengungguli perolehan suara 15 persen dari rivalnya dari Partai Republik, Donald Trump.


Keunggulan itu berasal dari kelompok kalangan pemilih awal yang disurvei dalam dua minggu terakhir, menurut Reuters/Ipsos States dari proyek Nation, seperti dilaporkan Reuters, Minggu (30/10/2016).


Meskipun data tidak tersedia untuk pemilih awal semua negara bagian, Hillary menikmati keunggulan perolehan suara di beberapa negara bagian yang belum menentukan pilihan (swing states).


Misalnya di negara bagian Ohio dan Arizona, serta di kubu Partai Republik seperti Georgia dan Texas.


Sejauh ini diperkirakan, 19 juta warga AS telah memberikan suaranya dalam pemilu, menurut Proyek Pemilu AS Universitas Florida, yang terhitung untuk sebanyak 20 persen pemilih.


Secara keseluruhan, Hillary juga tetap di jalur untuk memenangkan suara mayoritas dalam "Electoral College", kata survei Reuters/Ipsos.


"Electoral College" adalah badan yang memilih presiden dan wakil presiden AS setiap empat tahun.


Warga AS tidak langsung memilih presiden atau wakil presiden, sebaliknya mereka menunjuk "pemilih" (electors), yang biasanya akan memilih kandidat tertentu.


Oleh karena itu, presiden tidak ditentukan oleh suara populer nasional. Sebaliknya, setiap negara bagian memiliki kursi dalam suatu "electoral college", yang dibagi kira-kira sesuai dengan jumlah penduduknya.


Untuk kebanyak negara bagian, calon yang menang adalah orang yang mengumpulkan semua suara pemilu di negara bagian itu.


Mendapatkan begitu banyak surat suara sebelum pemilihan umum pada 8 November 2016 adalah berita baik untuk kampanye Hillary.


 


istimewa

 Prediksi Electoral College Penulis per 26 Oktober 2016 Keterangan: Biru = Hillary Clinton (Demokrat) – Merah = Donald Trump (Republik)


 


Surat elektronik


Biro Investigasi Federal (FBI), Jumat lalu, mengumumkan bahwa mereka sedang memeriksa kembali surat elektronik (surel) atau e-mail yang baru ditemukan milik asisten utama Hillary, Huma Abedin.


Surel tersebut ditemukan pada komputer milik Anthony Weiner, suami Abedin, selama penyelidikan terkait pesan terlarang yang diduga telah ia kirim ke seorang gadis remaja.


Survei Reuters/Ipsos yang menunjukkan keunggulan Hillary itu dilakukan sebelum berita tersebut muncul pada Jumat sore.


Namun, masih belum jelas apakah penyelidikan FBI akan mengganggu keseimbangan dalam kontes pemungutann suara.


FBI tidak mengungkapkan apa-apa tentang surel Abedin, termasuk fakta tentang ada tidaknya pesan yang dikirim oleh atau untuk Hillary Clinton.


Selama musim panas, FBI menyatakan menutup penyelidikan atas penggunaan sistem surel pribadi Hillary ketika menjabat sebagai menteri luar negeri AS.


Hillary telah memimpin perolehan suara dalam jajak pendapat dengan rata-rata 4-7 persen dalam beberapa pekan terakhir.


Sementara kampanye Trump bergumul dengan tuduhan dari para perempuan yang mengaku diraba-raba dan mengalami pelecehan seksual lainnya.


Trump mengatakan tidak ada tuduhan yang benar. Dia juga berjuang dalam debat-debat presiden baru-baru ini dan menghadapi pertanyaan tentang pajaknya.


Pekan lalu, peluang Hillary untuk mendaptkan 270 "Electoral College" yang dibutuhkan untuk memenangkan kursi kepresidenan tetap lebih dari 95 persen, menurut hasil jajak pendapat State of the Nation yang dirilis Sabtu (29/11/2016).


Proyek itu memperkirakan bahwa Hillary akan menang dengan 320 suara (elektoral) melawan 218 (dari total 538 suara elektoral), dengan 278 suara kokoh untuk Partai Demokrat.


Hillary memimpin perolehan suara di kalangan pemilih awal, dan itu serupa dengan yang dialami oleh Presiden Barack Obama ketika melawan capres Partai Republik Mitt Romney pada periode yang sama dalam pemilu 2012, menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos yang diambil pada saat itu. 


Obama memenangkan pemilihan dengan perolehan 332 suara elektoral (electoral votes)dan 206 suara untuk Romney. Namun, bahkan sebelum berita tentang surel terbaru, Hillary mengalami kesulitan selama sepekan terakhir.


Berita tentang tuduhan asusila terhadap Trump telah berkurang, sementara Hillary hampir setiap hari dihadapkan dengan rilis surel oleh WikiLeaks yang katanya diretas dari akun manajer kampanye Hillary.


Pesan surel yang bocor pekan ini mengangkat pertanyaan tentang keuangan mantan Presiden Bill Clinton.


Keunggulan Hillary di Pemilu AS, menurut proyek States of the Nation, sedikit turun dari pekan lalu.


Meskipun penilaian Electoral College diproyeksikan nyaris tidak bergerak, jumlah negara bagian yang solid mendukung Hillary Clinton menurun dari 25 ke 20 pada pekan ini.


Namun, tetap saja jalan Trump untuk kemenangan sempit, dan kesempatan realistis untuk Trump adalah dengan memenangkan suara di Ohio, Carolina Utara dan Florida.


Data voting awal untuk Florida dan Carolina Utara belum tersedia pekan ini. Di Ohio, Hillary dua digit unggul dari Trump di kalangan pemilih awal.


Proyek jajak pendapat yang lebih luas menunjukkan bahwa Ohio mengalami kebuntuan pilihan antara kedua kandidat. (ant/reuters/ap/kompas.com/bh).