• Search
  • Menu

Kisah Perjuangan Penambang Belerang di Balik Pesona Kawah Ijen

| Senin, 31 Oktober 2016 - 17:45 WIB | 443 Views



Kawah Ijen Banyuwangi terkenal dengan panorama memesona dan api biru yang langka. Tapi selain itu, traveler juga bisa bertemu dengan para penambang belerang di sana.

Banyuwangi - Kawah Ijen Banyuwangi terkenal dengan panorama memesona dan api biru yang langka. Tapi selain itu, traveler juga bisa bertemu dengan para penambang belerang di sana.

Matahari kembali menyapa pulau-pulau yang berada di tanah Jawa. Di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ada banyak titik untuk menikmati sapuan cahaya matahari di Pulau Jawa. 

Kawah Ijen menjadi salah satu tujuan masyarakat maupun pelancong di Banyuwangi untuk melihat matahari yang malu-malu kembali membawa cahaya. Gunung dengan tinggi 2.443 mdpl itu dapat ditempuh dengan menanjak selama 2-3 jam.

Jalur pendakian menuju puncak Ijen juga terbilang tidak terlalu sulit untuk ditapaki. Di tengah pendakian, traveler akan menemukan sebuah warung yang menjual teh panas hingga pisang goreng dan mie instan.

Sebelum tiba di kawah, wisatawan akan mulai menghirup asap berbau belerang yang terkadang terasa panas. Ada baiknya untuk mendaki Ijen, traveler membawa pelindung untuk mata dan pernapasan. 

Tapi jangan khawatir, perjuangan akan terbayarkan saat sampai di kawah Ijen. Para pendaki akan disambut dengan fenomena api biru yang hanya ada dua di dunia. Selain di Ijen, api biru dapat dinikmati di Islandia.

Uniknya, sepanjang mendaki traveler akan melihat banyak orang yang berlalu-lalang dan membawa sebuah troli. Mereka adalah penambang belerang yang biasa bekerja di sekitar kawah Gunung Ijen.


Para penambang biasanya berangkat kerja pada dini hari menggunakan senter di kepala, sarung tangan serta jaket tipis untuk menghalau dingin. Di tengah pendaki yang semakin banyak, para penambang harus membagi waktu dan beberapa jalur setapak yang hanya bisa dilalui satu orang.

"Kalau musim libur biasanya lebih ramai. Ini kita ambil belerang di sekitar sini (Kawah Ijen)," kata seorang penambang bernama Muhammad. 

Muhammad menceritakan, dia dan teman-temannya harus ekstra berhati-hati saat menambang di musim tertentu. Pada musim hujan, jalan menuju kawah Ijen memang menjadi lebih sulit.

Muhammad dan teman-temannya akan memarkirkan troli sedikit jauh dari pinggir kawah. Untuk sampai ke bibir kawah, mereka harus melewati jalanan batu menurun yang sangat curam.

Setelah dua jam mengangkut belerang dengan cara dipanggul, para penambang pun mulai turun dari Gunung Ijen. Biasanya mereka mampu membawa sekitar 80-100 kilogram belerang. 

Aktivitas penambang itu menjadi magnet sendiri yang membuat pengunjung takjub memperhatikannya. Setelah para pendaki selesai menambang, traveler dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Ijen.Di puncak inilah traveler akan terpukau dengan penampilan matahari yang kembali menawarkan harapan. Tidak hanya domestik, pengunjung juga banyak yang berdatangan dari luar negeri. 



Penambang hingga pemandu wisata di sekitar Kawah Ijen bahkan sudah sangat fasih menyapa turis mancanegara. Sembari tersenyum, para penambang akan menyapa "Good morning," yang akan dibalas dengan senyum maupun tawa bahagia dari turis asing. (detik.com/hp)