• Search
  • Menu

Festival Wai Humba V: Kami Bukan Menuju Kemusnahan

Oleh: Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi | Jumat, 04 November 2016 - 10:54 WIB | 974 Views



dibuat di Tanjung Haharu untuk mengingatkan masyarakat Humba bahwa ditempat ini peradaban Humba dimulai

Festival Wai Humba V: Kami Bukan Menuju Kemusnahan


Sudah lima tahun terakhir ini Wai Humba disepakati sebagai gerakan inspirasi penyatu keempat kabupaten di Pulau Sumba, yakni Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Wai atau wee berarti air, sedangkan Humba adalah Sumba. Wai Humba terinspirasi dari nama-nama tempat di seluruh Sumba yang berawal dengan Wai atau Wee, misalnya Waingapu, Waikabubak, Waibakul, Weetabula.


Pengakuan adanya persamaan entitas sebagai TAU HUMBA (orang Sumba) mendorong terbentuknya sebuah komunitas yang dinamakan “Komunitas Wai Humba”. Melalui komunitas ini, masyarakat dari empat kabupaten dapat melakukan pertukaran informasi seputar potensi dan masalah yang dihadapi di wilayah masing-masing.


Adapun orang Humba (Sumba) memiliki kepercayaan asli Marapu, mereka melakukan kegiatan ritual-ritual adat, seperti; Kalarat Wai (diambil dari bahasa Humba Kambera). Kalarat Wai merupakan aktivitas religius aliran kepercayaan Marapu dengan melakukan persembahan di sumber mata air, bahkan hingga saat ini masih terus dijalankan oleh masyarakat penganut Marapu di Pulau Sumba. Selain merupakan ibadah ucapan syukur,kegiatan ini juga sekaligus sebagai ibadah permohonan kepada sang pencipta agar senantiasa melimpahkan karunia air buat orang Humba.


Sampai saat ini, masyarakat di kawasan tempat persembayangan masih mengkramatkan / melarang aktivitas pengrusakan di tempat mata air. Air dipercaya bersumber dari keberadaan hutan yang terbentang luas membungkus gunung-gunung di Sumba. Oleh karenanya, keempat kabupaten yang menyatu dalam satu wadah yang bernama wai humba, memiliki misi yang sama, yakni melindungi gunung-gunung di Humba sebagai penyuplai air bagi makhluk hidup di dalamnya.


Festival Wai Humba V yang sudah digelar di Kampung Lai Wotung Desa Kadahang, Kecamatan Haharu, Kabupaten Humba Timur pada 26-29 oktober 2016 lalu dihadiri ratusan perwakilan masyarakat dari empat gunung di Sumba (Gunung Wanggameti, Tanadaru, Yawilla, Gunung Porunombu) serta kaum muda Pulau Humba (Waingapu, Waibakul, Waitabula, Waikabubak).


Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama festival digelar; pertama, pentas seni budaya, napak tilas ke Tanjung Haharu, Kampung Wunga, Mananga Kadahang, Danau Wai Mulung,  tempat peradaban orang Humba dimulai. Kedua, Diskusi kampung tentang tatakelola lahan, air, hutan, dan Pulau Humba Tanpa Tambang serta investasi penghancur lingkungan dan sosial budaya lainnya.


Ketiga,  Ikrar Persaudaraan Satu Humba. Ikrar ini hendak menunjukkan bahwa masyarakat Humba adalah satu. Perbedaan wilayah administratif hanyalah upaya pemerintah untuk mempermuda pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk mengkotak-kotakan masyarakat Humba. Keempat, Penandatanganan dukungan Tanjung Haharu dan sekitarnya menjadi cagar budaya Humba. Kelima, Lomba permainan tradisional lokal ma'ka (gasing Sumba).


Adapun pembelajaran penting semenjak Festival Wai Humba digelar (2012 - 2016); pertama, Menolak Lupa terkait Perjuangan Tiga Umbu. Ketika perusahaan tambang PT Hillgroves Resources dan anak perusahaanya PT Fathi Resources mengobrak-abrik Pulau Humba (2010 - 2011),  tiga Umbu di Humba Tengah (Umbu Djanji, Umbu Mehang, Umbu Pindingara) yang rela dipenjara hanya karena mempertahankan tanah dan ruang hidupnya dari gempuran perusahaan tambang. Festival ini memberikan pembelajaran kepada generasi muda Humba untuk merawat tanah dan air dari praktek-praktek penghancuran. Artinya, festival ini merupakan festival refleksi perjuangan, bukan festival wisata sebagaimana yang marak dilakukan di Tanah Humba.


Kedua, Keswadayaan.  Festival Wai Humba yang lahir dari suatu perjuangan bersama masyarakat yang menolak pertambangan masuk dan menghancurkan Bumi Humba hingga proses perjuangan penolakan tambang itu berujung tiga Umbu di Sumba Tengah dipenjara. Selama tiga Umbu dipenjara, begitu banyak dukungan dan solidaritas dari masyarakat luas, baik berupa pikiran, waktu, dan tenaga hingga harta benda.


Ketiga, Solidaritas. Festival Wai Humba V sengaja dibuat di Tanjung Haharu untuk mengingatkan masyarakat Humba bahwa ditempat ini peradaban Humba dimulai. Sudah seharusnya generasi muda dan masyarakat Humba mengetahui itu dan bersatu padu merawat dan melindungi Tanah Humba dari ancaman penghancuran. Oleh karena itu, visi solidaritas tersebut tergambar dalam tema Festival Wai Humba V yakni 'Kita Terhubung' dalam mencegah musnahnya ruh peradaban kebudayaan Humba.


Adapun ruh dari Festival Wai Humba dari tahun ke tahun adalah 'Kami Bukan humba Yang Menuju Kemusnahan'. Ruh ini menegaskan kepada siapapun bahwa pembangunan dalam bentuk dan dalam bidang apapun tidak boleh menghancurkan peradaban kebudayaan orang Humba.


Rekomendasi dari Festival Wai Humba V


1. Menjadikan Kawasan Tanjung Hahar dan sekitarnya menjadi Cagar Budaya Humba yang diakui dalam bentuk kebijakan dan regulasi Pemerintah.


2. Tidak boleh ada investasi pertambangan Minerba dan investasi penghancur daya dukung lingkungan dan kebudayaan orang Humba.


3. Memberikan beasiswa bagi muda-mudi Humba yang ingin bersekolah di ilmu budaya, antropologi, dan arkeologi agar proses pelestarian budaya Humba makin menguat.


4. Pemerintah dan pihak terkait segera mengentikan model pariwisata yang berbasis investor. Pulau Humba membutuhkan investasi pariwisata berbasis kerakyatan.


5. Menolak segala bentuk penjarahan lahan wilayah produksi rakyat atasnama pembangunan atau investasi.


6. Menjadikan Bahasa Humba menjadi salah satu mata pelajaran di semua sekolah di Sumba


7. Menggalakan dan melindungi wilayah tutupan hutan serta sumber air di Humba.


8. Inventarisasi dan melindungi tanah ulayat dan hutan di Humba. (Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi)