• Search
  • Menu

Bersenjatakan Senapan Seorang Ibu di India Lindungi Para Gadis dari Perkosaan

| Minggu, 13 November 2016 - 09:12 WIB | 398 Views



Ilustrasi (Repro: hariansib.co)

Dengan senapan di tangannya, Shahana Begum (42), berpatroli di jalanan desanya di Shahjahanpur, Uttar Pradesh, mencari para pemerkosa

NEW DELHI, Baranews.co - Seorang ibu dengan bersenjatakan sepucuk senapan dengan caranya sendiri berusaha memerangi maraknya kasus perkosaan di India.

Dengan senapan di tangannya, Shahana Begum (42), berpatroli di jalanan desanya di Shahjahanpur, Uttar Pradesh, mencari para pemerkosa.

Begum sudah cukup lama melakukan pekerjaan ini dan sempat menangkap beberapa orang pelaku perkosaan.

Pada 2013, dia menangkap tiga orang pria yang menyekap dan  memperkosa seorang gadis selama dua hari. 

Ibu empat anak itu lalu membawa para pemerkosa itu ke kantor polisi dan memaksa mempertanggungjawabkan perbuatannya. 

Dia bahkan tak segan datang berulang kali ke kantor polisi untuk menanyakan perkembangan sebuah kasus perkosaan.

Di antara para pemuda dan perempuan di desanya, Begum dikenal dengan julukan "Bandookwali Chachi" atau yang artinya kurang lebih adalah "Bibi yang membawa senapan".

Setelah menjanda selama 17 tahun, Begum sangat mengkhawatirkan keselamatannya di kawasan yang masih sangat didominasi para pria itu.

Dia akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah ekstrem untuk melindungi dirinya dan sang putri serta para perempuan lainnya.

"Senapan ini adalah suami kedua saya. Ini adalah pendukung saya di masa sulit. Tak ada pria yang berani mengganggu perempuan di sini sekarang," ujar Begum.

"Mereka tahu saya akan menembak mereka. Saya melindungi para perempuan di lingkungan ini seperti seorang ibu. Dan melindungi anak-anak mereka adalah kewajiban seorang ibu," tambah Begum.

Begum mengklaim telah berhasil menekan kasus serangan dan pelecehan seksual di kawasan itu, hal yang tak pernah bisa dilakukan para polisi.

"Saya tak pernah mendengar kasus perkosaan dilaporkan ke polisi selama bertahun-tahun," kata Begum.

"Ada saatnya ketika para gadis datang kepada saya karena polisi gagal membantu mereka," tambah dia.

Begum mengingat kasus yang ditanganinya tiga tahun lalu. Kala itu, keluarga korban perkosaan sudah melapor ke polisi tetapi polisi mengabaikan pengaduan mereka.

"Lalu mereka meminta bantuan saya untuk menyelesaikan masalah itu," kenang Begum.


Pertama kali, Begum mendatangi kantor polisi dan meminta mereka menerima kasus yang dilaporkan korban. 

Dia mengancam akan melapor ke otorita yang lebih tinggi jika laporan kasus perkosaan itu diabaikan.

"Para tersangka berasal dari keluarga berpengaruh sehingga polisi ragu untuk bertindak, tetapi akhirnya polisi menangkap para pelaku," kata Begum.

"Di kantor polisi saya mendesak untuk bertemu dengan para pelaku dan di hadapannya saya meminta mereka bertanggung jawab," tambah dia.

"Akhirnya, salah seorang pelaku bersedia menikahi korbannya dan mereka sekarang malah hidup bahagia," Begum menegaskan.

Begum memang sudah terbiasa menggunakan senjata api, karena ayah dan kakak laki-lakinya kerap menggunakan senjata api. Dia kemudian mendapatkan lisensi untuk memiliki senjata api pribadi.

Setelah mendapatkan lisensi, pada 1999 Begum membeli senapan pertamanya di sebuah toko senjata di Shahjahanpur dengan menggunakan uang tabungannya.

Dia kemudian berlatih menembak di lapangan kosong di belakang kediamannya. Akibat latihan rutin itu, Begum kini sangat handal menggunakan senjata api.

Kebiasaan Begum yang menggunakan pendekatan langsung dan perilakunya yang tak suka basa basi membuatnya sangat disegani.

Dia bahkan berani menghadapi sosok pria bertubuh besar atau anggota masyarakat yang berpengaruh dalam usahanya melindungi para perempuan.

Selain itu, Begum secara rutin berkeliling desa setiap pekan untuk berbicara dengan warga dan membantu menyelesaikan berbagai jenis perselisihan sehari-hari.

Aksi Begum ini berdampak sangat besar, kini para perempuan desa merasa sangat terlindungi.

"Kini tak ada pria yang berani sembarangan kepada kami," kata Sehra Banu (20), seorang penduduk desa.

"Saya mendengar seorang gadis dilecehkan dan diperkosa di daerah lain, tetapi bukan di sini, mereka takut kepada bibi bersenapan," tambah Banu.

"Dia adalah penolong kami. Kini kami bisa pergi ke sekolah atau bekerja dengan aman. Saya tak akan meninggalkan desa ini karena tak ada orang seperti dia di luar sana," tambah Banu.

Negara bagian Uttar Pradesh adalah salah satu daerah terpadat di India sekaligus daerah dengan paling banyak kasus perkosaan yang dilaporkan.

Biro Catatan Kejahatan Uttar Pradesh mencatat jumlah kasus perkosaan dari 2014-2015 meningkat 160 persen.

Pada 2014 terdapat 3.467 kasus perkosaan, sedangkan pada 2015 tercatat 9.075 kasus perkosaan. Dan sejauh ini pada 2016 telah terjadi 11.012 kasus perkosaan dan 4.520 kasus pelecehan seks. (Ervan Hardoko/kompas.com/if).