• Search
  • Menu

Bagaimana Sirosis Bisa Menjadi Kanker Hati?

| Rabu, 16 November 2016 - 18:30 WIB | 327 Views



Sirosis merupakan penyakit hati atau lever berupa peradangan, kerusakan atau kematian sel hati. Sirosis menyebabkan hati mengeras, mengecil, dan terjadinya penurunan fungsi hati.

JAKARTA, Baranews.co - Sirosis merupakan penyakit hati atau lever berupa peradangan, kerusakan atau kematian sel hati. Sirosis menyebabkan hati mengeras, mengecil, dan terjadinya penurunan fungsi hati. Dalam tahap lanjut, tak tertutup kemungkinan sirosis berkembang jadi kanker hati.


Dokter spesialis penyakit dalam-konsultan gastro enterologi hepatologi, Rino A Gani memaparkan, apabila sirosis tidak ditangani dengan tepat, proses kerusakan sel hati akan terus berjalan. Fungsi hati pun akan semakin menurun karena banyak sel hati yang mati.


Kerusakan yang terus menerus itulah pada akhirnya bisa memicu pertumbuhan sel kanker. "Kanker hati bisa terjadi karena peradangan yang menahun menyebabkan sifat sel hati berubah menjadi sel kanker," terang Rino kepada Kompas.com, Rabu (16/11/2016).


Rino mengatakan, sirosis bisa disembuhkan asal penyebabnya bisa dihilangkan atau ditekan. Penyebab sirosis antara lain karena infeksi virus hepatitis B maupun C, autoimun, perlemakan hati atau konsumsi alkohol yang berlebihan.


Jika sudah jadi kanker, penyakit akan lebih berat. Untuk itu, pengobatan sirosis pun dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker hati. Selain itu, sirosis juga bisa berlanjut menjadi gagal hati.


Menurut Rino, yang terpenting adalah melakukan pencegahan terkena penyakit hati sebelum berkembang jadi sirosis. Sebab, kebanyakan pasien datang sudah dalam keadaan sirosis karena umumnya awal kerusakan hati tidak memunculkan gejala yang jelas.


Banyak pasien tak sadar telah terinfeksi virus hepatitis B maupun C. Butuh waktu puluhan tahun dari sakit hepatitis hingga menjadi sirosis. Pencegahannya, yaitu mengindari terinfeksi virus hepatitis dengan vaksinasi hepatitis, tidak konsumsi narkotika, tidak minum alkohol, hindari penggunaan tato tidak steril, hingga kurangi makanan berlemak. (kompas.com/hp)