• Search
  • Menu

Gadis Belia Idap Kanker Ingin ''Hidup Lebih Lama'', Wasiat Jelang Ajalnya Mengharukan

| Jumat, 18 November 2016 - 10:53 WIB | 367 Views



Gadis berusia 14 tahun di London, Inggris, ingin agar jasadnya diawetkan dengan sistem "cryonic", dengan harapan kelak ia bisa dibangkitkan lagi berkat kemajuan teknologi medis di masa depan.

Seorang gadis belia Inggris, yang meninggal setelah didera sakit berat, mendapatkan haknya yakni jenazahnya dibekukan sesuai dengan wasiatnya kepada hakim.

LONDON, Baranews.co Seorang gadis belia Inggris, yang meninggal setelah didera sakit berat, mendapatkan haknya yakni jenazahnya dibekukan sesuai dengan wasiatnya kepada hakim.


 


Kantor berita Agence France-Presse, Jumat (18/11/2016), melaporkan, keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya dirilis oleh Pengadilan Tinggi di London, ibu kota Inggris.


Gadis berusia 14 tahun asal London itu pernah menulis surat kepada seorang hakim.


Dalam wasiatnya, gadis itu menjelaskan bahwa ia ingin “hidup lebil lama” lagi setelah menderita sakit akibat satu jenis kanker yang langka.


Dia itu telah meneliti, membaca, dan memutuskan untuk menjalani program cryonic, teknik pembekuan mayat agar sel atau organ tubuhnya tidak rusak sehingga bisa dibangkitkan lagi suatu saat nanti.


Gadis belia itu berharap, dengan teknik itu dia bisa hidup lagi kelak dengan bantuan kemajuan teknologi medis di masa depan.


"Saya baru berusia 14 tahun dan saya tidak ingin meninggal muda, tetapi sayangnya saya tahu saya akan segera pergi,” demikian goresan tangan gadis itu kepada seorang hakim.


"Saya pikir dengan cara dibekukan, itu akan memberi saya kesempatan untuk sembuh dan bangkit lagi kelak. Bahkan bisa bertahan dalam waktu ratusan tahun,” pesannya.


Ia mengajukan gugatan untuk meminta ibunya – yang mendukung keinginan putrinya – menjadi satu-satunya orang yang diizinkan agar mengambil keputusan bagaimana memperlakukan jasadnya.


Gugatan hukum diajukan gadis itu karena pada awalnya sang ayah, yang telah bercerai dengan ibu gadis itu, sangat keberatan dengan rencana putrinya itu.


Hakim Peter Jackson memutuskan untuk mendukung gadis itu pada Oktober lalu setelah sidang tertutup di Pengadilan Tinggi Inggris dan Wales di London.


Gadis itu terlalu sakit untuk menghadiri sidang dan telah meninggal dunia setelah sidang saat itu, dengan jazadnya dibawa ke Amerika Serikat dan diawetkan secara cryogenic.


Hakim menggambarkan kasus tersebut sebagai "kombinasi tragis" penyakit masa kanak-kanak dan konflik keluarga.


Hakim juga juga memuji gadis yang telah berpulang itu atas "cara yang gagah berani" yang diambilnya dalam menangani situasi yang dialaminya.


Selama delapan tahun terakhir hidup remaja itu tidak pernah mengalami tatap muka dengan ayahnya. Hal itu menyedihkan tentunya.


“Jika perawatan ini sukses dan ia kelak bisa hidup lagi, katakan, dalam 200 tahun, ia takkan menemukan keluarganya dan ia boleh jadi tak ingat apa-apa,” kata ayahnya kepada Jakson.


Sikap sang ayah telah berubah selama persindangan kasus itu. Ia mengatakan sangat menghormati keputusan putrinya. (kompas.com/hp)