• Search
  • Menu

Paus Fransiskus Prihatin atas ''Epidemi Permusuhan'' di Dunia

| Minggu, 20 November 2016 - 10:16 WIB | 264 Views



permusuhan terhadap sesamama manusia telah menyebar dan menyerang orang-orang dari ras atau agama lain, menyakiti kelompok terlemah di dalam masyarakat

Syeik Ahmed el-Tayyib, imam besar Al Azhar, Kairo, Mesir, bertukar cendera mata dengan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia, Paus Fransiskus dalam audiensi pribadi keduanya di Istana Apostolik, Vatikan City, Senin (23/5/2016 k). (Repro: kompas.com/AP/Max Rossi).


 


VATICAN CITY, Baranews.co – Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia, Paus Fransiskus, Sabtu (19/11/2016), memperingatkan tentang menyebarnya "epidemi permusuhan".


Menurut Paus, permusuhan terhadap sesamama manusia telah menyebar dan menyerang orang-orang dari ras atau agama lain, menyakiti kelompok terlemah di dalam masyarakat.


Paus tampaknya ingin memberikan peringatan yang hati-hati tentang kebangkitan nasionalisme populis atau nasionalisme kerakyatan, seperti dilaporkan Reuters.


Seminggu setelah Donald Trump, tokoh anti-imigran, terpilih menjadi Presiden AS, Paus Fransiskus mengatakan, "betapa cepat mereka yang ada di antara kita dengan status orang asing, imigran atau pengungsi telah menjadi ancaman, dilabeli status musuh”.


Dicap “seorang musuh karena mereka datang dari negeri yang jauh atau memiliki kebiasaan yang berbeda, karena warna kulit mereka, bahasa mereka atau kelas sosial mereka,” katanya.


“Seorang musuh karena mereka berpikir secara berbeda atau bahkan memiliki iman yang berbeda," katanya saat melantik 17 kardinal baru, berharap menjauhi sikap bermusuhan.


Paus menyuarakan keprihatinannya atas permusuhan, yang tampak meningkat dilakukan kelompok mayoritas terhadap minoritas atau kelompok terlemah di masyarakat.


Meskipun tidak menyebut nama negara manapun, Fransiskus menyampaikan hal itu antara lain dengan merujuk sikap anti-imigran dan anti-Muslim selama kampanye dan sejak Pemilu AS.


Departemen Kehakiman AS, Jumat (18/11/2016), mengatakan, pihaknya sedang menyelidiki laporan intimidasi dan pelecehan di sekolah-sekolah, gereja, dan tempat lain sejak Pemilu AS.


Salah satu kardinal baru, Uskup Agung Blase Cupich dari Chicago, mengatakan, Paus "sangat menyadari fakta bahwa jika (permusuhan) tidak dicegah, akan sangat menular dan dapat menyebar dengan cepat, bisa seperti api liar".


Dalam upacara "konsistori" di Basilika Santo Petrus, Sabtu, Paus Fransiskus menunjuk 17 kardinal baru, 13 dari mereka berusia di bawah 80 tahun menjadi “Pangeran Gereja” bagi 1,2 miliar umatnya. (kompas.com/if).