• Search
  • Menu

Gubernur BI Sebut Trump dan Suku Bunga AS Bikin Ketidakpastian Investor

| Selasa, 22 November 2016 - 22:20 WIB | 390 Views



Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, menilai masih adanya ketidakpastian ekonomi global yang mempengaruhi investor.

Jakarta, Baranews.co - Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, menilai masih adanya ketidakpastian ekonomi global yang mempengaruhi investor. Di antaranya adalah hasil mengejutkan dari Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), yang dimenangkan Donald Trump, serta rencana kenaikan suku bunga acuan AS.

Trump menjadi kekhawatiran investor karena munculnya beberapa rencana besar. Terutama dari sisi fiskal, terkait dengan pemangkasan tarif pajak.

"Ketidakpastian geopolitik, termasuk pemilu presiden di AS berdampak pada menurunnya aliran modal ke negara berkembang, dan diikuti volatilitas perpindahan dana global," terang Agus dalam Pertemuan Tahunan BI di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (22/11/2016).

Suku bunga AS juga kemudian terkena dampaknya. Proyeksi investor, suku bunga acuan di AS akan naik lebih cepat, berbeda dengan rencana sebelumnya. 

"Ekonomi global yang belum solid dan antisipasi kenaikan Fed Fund Rate (suku bunga acuan AS) pada gilirannya kembali berdampak pada masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global," ujarnya.

Agus melihat persoalan struktural ekonomi global semakin berat. Ini akan berdampak negatif terhadap banyak negara di dunia, khususnya negara-negara berkembang.

"Permasalahan yang dalam pandangan kami berkontribusi pada turunnya produktivitas ekonomi di banyak negara, dan kemudian menurunkan kapasitas produksi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara berkembang," terang Agus.

Kondisi perdagangan dunia juga terlihat semakin memburuk, dikarenakan pasokan yang lebih besar datang dari negara tertentu, seperti China. Sementara permintaan terus menurun.

"Elastisitas pertumbuhan ekonomi dunia terhadap perdagangan dunia yang sejak awal tahun 2000 berada pada angka sekitar 1,3 melemah. dan dalam lima tahun terakhir elastisitas yang terjadi hanya sekitar 0,9," tukasnya.

Dalam proyeksi BI, pertumbuhan ekonomi dunia 2016 hanya mencapai 3%. Sementara pada 2020, ekonomi tidak akan lebih dari 4%

"Kita masih akan menghadapi kelesuan ekonomi global dalam waktu lebih lama, yang bahkan berisiko menjalar ke negara berkembang, termasuk Asia. Pertumbuhan ekonomi global sampai dengan tahun 2020 diperkirakan masih akan di bawah 4%," ungkapnya. (detik.com/hp)