• Search
  • Menu

Belanda Akan Kembalikan 1.500 Keris ke Indonesia

| Rabu, 23 November 2016 - 16:50 WIB | 298 Views



Dan, sekarang, saya akan menyerahkan kepada Bapak Presiden sebilah keris. Keris ini adalah salah satu dari koleksi artefak Indonesia, Koleksi Nusantara yang tersimpan di Delft.

Jakarta, Baranews.co – Kabar gembira terdengar dari ruang pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (23/11). Diplomasi budaya yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat Belanda bakal mengembalikan ribuan artefak budaya berupa keris yang selama ratusan tahun tersimpan di negeri Kincir Angin itu.


Konfirmasi mengenai pengembalian artefak budaya itu disampaikan langsung Perdana Menteri Kerajaan Belanda Mark Rutte usai pertemuan bilateral dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka.


PM Rutte secara terbuka di hadapan wartawan menyampaikan rencana pengembalian artefak itu.


PM Rutte menyatakan bahwa Pemerintah Kerajaan Belanda mengembalikan sebanyak 1.500 artefak budaya berupa keris yang selama bertahun-tahun tersimpan rapih di salah satu museum di Delft, Belanda.


“Dan, sekarang, saya akan menyerahkan kepada Bapak Presiden sebilah keris. Keris ini adalah salah satu dari koleksi artefak Indonesia, Koleksi Nusantara yang tersimpan di Delft. Sebanyak 1.500 artefak akan dibawa pulang ke Indonesia dan keris ini adalah simbol pertama,” kata PM Rutte kepada Presiden Jokowi di Istana Merdeka.


Presiden Jokowi menyambut dengan penuh kehangatan pemberian keris oleh PM Rutte. Sambil menatap PM Rutte, Presiden Jokowi pun berujar “Terima kasih.”


Kunjungan PM Rutte ke Indonesia seakan memulihkan luka lama yang diderita bangsa Indonesia.


PM Rutte memahami bahwa keputusan Pemerintah Belanda memulangkan benda-benda bersejarah milik bangsa Indonesia merupakan suatu langkah konkret untuk memperkokoh jalinan persahabatan kedua negara.


Diplomasi budaya ala Presiden Jokowi sangat pas pada era keterbukaan saat ini. Presiden Jokowi memahami secara tepat cara-cara untuk menjalin kemitraan erat di berbagai bidang dengan Kerajaan Belanda.


Cerita Masa Lalu


Sebenarnya, dalam sejarah republik ini, Belanda memiliki cerita tersendiri pada masa lalu. Belanda selain dikenal sebagai negeri yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun, juga akrab di kalangan masyarakat.


Bahkan, di kalangan para pemimpin Indonesia, Belanda memiliki karakteristik tersendiri. Negeri itu kerap 'dijauhi' para pemimpin karena di sana bermukim kelompok separatis yang kerap bersikap agresif terhadap para pemimpin Indonesia yang berkunjung ke sana.


Di dalam lembaran persahabatan RI-Belanda, Presiden Jokowi menjadi pemimpin pertama RI, yang berkunjung ke negeri itu, sejak 16 tahun terakhir.


Belanda kerap dihindari karena pengalaman masa lalu, ketika Presiden Soeharto didemo besar-besaran oleh kelompok Republik Maluku Selatan (RMS), pada tahun 1970. Kelompok separatis RMS selama ini menetap di Negeri Kincir Angin itu. Syukurlah, saat itu, Presiden Soeharto mempunyai nyali kuat sehingga dapat kembali ke Tanah Air dengan selamat.


Selanjutnya, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berkunjung ke Belanda, pada tahun 2000.


Pada 5 Oktober 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah akan berangkat ke Belanda, tapi mendadak kunjungan itu dibatalkan sepihak. Presiden SBY memutuskan membatalkan kunjungan kenegaraan ke Belanda, hanya beberapa saat menjelang Pesawat Kepresidenan, yang akan membawanya tinggal landas dari Bandara Internasional Halim Perdanakusuma.


Saat itu, seluruh wartawan yang akan mendampingi Presiden SBY ke Belanda, sudah stand by di dalam pesawat. Bahkan, pramugari Garuda sudah membagi-bagikan handuk kecil untuk membersihkan wajah. Selain itu dibagikan juga jus kacang hijau, dan mi instan untuk dikonsumsikan wartawan.


Sayangnya, perjalanan itu terpaksa ditunda hanya sekitar satu jam sebelum pesawat Garuda lepas landas, pada 5 Oktober 2010 lalu. Kabarnya, Presiden SBY merasa tidak nyaman menghadapi aksi demo kelompok RMS di Belanda.


Maklum, kunjungan Presiden SBY bertepatan digelarnya persidangan kilat di Pengadilan Den Haag, yang diajukan kelompok RMS yang bermukim di Belanda. Mereka menuntut Presiden SBY ditahan saat berkunjung ke Belanda. Kelompok RMS menuduh SBY terlibat pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Maluku. Kabar bakal kembalinya 1.500 artefak budaya semakin menegaskan bahwa pemimpin Indonesia tidak perlu gentar atau menghindar untuk berkunjung ke Negeri Belanda.





 


Novy Lumanauw/YUD


Investor Daily