• Search
  • Menu

Penis Rusa Laris Manis untuk Obat Disfungsi Seksual

| Rabu, 23 November 2016 - 17:50 WIB | 376 Views



Penis rusa kering yang dianggap manjur untuk kesehatan seksual di China. (Repro: ABC Rural/Bridget Fitzgerald)

Pasangan suami istri ini sudah beternak rusa selama 30 tahun lebih, dan saat ini menjual daging rusa ke beberapa restoran di Melbourne

Baranews.coMeningkatnya permintaan penis rusa dan berbagai bagian tubuh lain dari binatang tersebut untuk dijadikan obat-obatan, membuat peternakan rusa di Australia kewalahan.


Jill dan Michael Vella selama ini menangkarkan rusa jenis fallow (dama dama) dan rusa merah (cervus elaphus) di kawasan Koonwarra, di selatan Gippsland, sekitar 140 kilometer dari Ibu Kota negara bagian Victoria, Melbourne.


Pasangan suami istri ini sudah beternak rusa selama 30 tahun lebih, dan saat ini menjual daging rusa ke beberapa restoran di Melbourne.


Jill Vella mengatakan, selama ini mereka menganut prinsip untuk tidak mau menyia-nyiakan bahan yang ada.


Mereka pun berusaha memastikan bahwa ada pasar yang mau membeli semua bagian dari binatang tersebut.


"Kami memastikan bahwa mereka hidup dengan baik dan kemudian memotong mereka dengan cara yang manusiawi."


"Kami bersyukur bisa memelihara dan mendapat manfaat dan berusaha untuk memanfaatkannya secara maksimal."

Jill Vella mengatakan, sekarang mereka menjual beberapa bagian rusa itu ke China. Di sana, bagian-bagian tertentu tubuh rusa digunakan sebagai bahan obat-obatan.


Dia mengatakan, tanduk rusa dijual untuk mereka yang kekurangan kalsium, tendon untuk minuman kesehatan, dan penis rusa yang dikeringkan untuk kekuatan seksual.


"Penis rusa adalah viagra bagi warga China, untuk obat kesehatan seksual."


"Dan sebenarnya ketika viagra tersedia luas, tidak ada lagi yang mau membeli penis rusa ini, namun sekarang permintaan meningkat lagi."


Jill Vella mengatakan, permintaan sekarang begitu meningkat sehingga dia kadang harus mengimpor bagian tubuh rusa ini dari Selandia Baru.


Sementara, tanduk rusa adalah bagian yang paling penting, dan untuk memotongnya, dilakukan pembiusan lokal, di bawah pengawasan dokter hewan.


"Tanduk rusa sudah digunakan dalam ramuan obat-obatan China sejak lama," kata dia.

"Permintaan tinggi, sangat mahal, dan kami menjualnya ke seluruh Australia," tambahnya.

Peternakan Vella ini membawa rusa yang mereka miliki ke sebuah rumah pemotongan hewan di Camperdown. Perjalanan pulang pergi sejauh 670 kilometer dari peternakan mereka.


Jill Vella mengatakan, opsi untuk memproses rusa terbatas di Australia karena tidak banyaknya peternakan rusa di Victoria maupun di bagian Australia lainnya.


Mereka mampu mempertahankan bisnis berkelanjutan karena bisa menggunakan bahan-bahan yang orang lain mungkin harus dibuang.


"Kami mendapatkan manfaat hampir 100 tahun dari apa yang kami ternakkan," kata Jill.


"Jadi kita tidak misalnya beternak rusa kita selama beberapa tahun dan ketika siap dipotong, hanya mengambil dagingnya, dan sisanya dibuang begitu saja."

"Kami memanfaatkan secara maksimal apa yang kami hasilkan," tegas dia.


Presiden Asosiasi Industri Ternak Rusa Australia Andrew McKinnon memiliki ternak sapi, kambing, dan rusa di lahannya di Strathdownie di Australia Barat.


McKinnon mengatakan, meskipun biaya beternak rusa mahal, daging rusa tidak tidak mampu bersaing dengan harga daging sapi atau kambing.


"Sudah terjadi naik turun harga selama beberapa tahun terakhir," kata McKinnon.

"Sekarang harganya sekitar Rp 45.000 per kg," sambungnya.


Menurut McKinnon, sulit dimengerti mengapa harga daging rusa begitu rendah di saat harga daging sapi dan kambing mencapai titik tertinggi.

"Harga daging kambing, sekarang ini Rp 60.000 per kg," kata dia.


McKinnon mengatakan, nilai tambah yang dihasilkan oleh berbagai bagian lain tubuh rusa membuat mereka tetap mampu bersaing.


"Buntut, penis, tendon di kaki rusa masih berharga tinggi," kata dia.


"Jadi semuanya bila ditambahkan akan membuat biaya pemotongan menjadi lebih murah."

McKinnon juga mengatakan deer velvet, bagian tulang yang ada di sekitar tanduk rusa juga banyak diminati, dan bisa terjual sekitar Rp 1,2 juta di China.


Dia mengatakan, dengan ongkos transportasi dan terbatasnya tempat pemotongan, penjualan bagian lain dari tubuh rusa membuat petani masih bisa mendapatkan keuntungan.

"Bagi kami di situlah pasarnya," kata dia.


"Jadi tidak sekadar menjual daging rusa saja," tegas McKinnon. (kompas.com/Australia Plus ABC/if).

 

,