• Search
  • Menu

Berusaha Mencari Pesan Soekarno

| Minggu, 15 Desember 2013 - 21:21 WIB | 2619 Views



merdekaan bukan tujuan, tetapi awal. Kita yang mengawali. Selebihnya, kita serahkan pada anak cucu

JAKARTA,  -- "Kemerdekaan bukan tujuan, tetapi awal. Kita yang mengawali. Selebihnya, kita serahkan pada anak cucu...."

Menjelang rilis film Soekarno, Selasa (11/12), sutradara Hanung Bramantyo menjelaskan, film ini adalah suatu sudut pandang tentang Soekarno, Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Meski dibuat berdasar riset sejarah, film tetaplah kompromi antara idealisme sutradara dan pertimbangan bisnis.

Sosok Soekarno (1901-1970) jelas terlalu besar untuk diwadahi dalam satu film saja. Karenanya, ini menjadi interpretasi bagian kehidupan Pemimpin Besar Revolusi itu. Dengan durasi dua jam 17 menit, kata Hanung, Soekarno ingin menyampaikan pesan, merdeka berarti mandiri sebagai bangsa.

Pesan untuk jadi tuan di negeri sendiri itu disampaikan sejak awal film. Misalnya, saat Soekarno belia mengekspresikan kemarahan karena diusir dari rumah noni Belanda dengan berpidato sendiri. Pesan itu lalu diteriakkan Tjokroaminoto yang menguatkan benih kebangsaan di dada Soekarno remaja.

Cerita bergulir menampilkan Soekarno (diperankan Ario Bayu) memimpin pergerakan pemuda dengan gagah. Dramatika penangkapan Soekarno hingga ia dijebloskan ke penjara, lalu diasingkan ke Ende dan Bengkulu, pun terbangun baik.

Hanung menghadirkan visualisasi masa lalu dengan cukup apik. Mulai dari pasar di Surabaya, penjara Banceuy, perkampungan di Bengkulu, hingga kediaman Soekarno di Pegangsaan Timur, Jakarta.

Di Bengkulu, Soekarno yang diasingkan bersama istrinya, Inggit Ganarsih (Maudy Koesnaedi), berkenalan dengan Fatmawati (Tika Bravani), murid sekolah Muhammadiyah tempat ia mengajar. Gaya Soekarno merayu Fatma dengan cerita perang Pasifik di pantai jadi sisipan menarik.

Masalahnya, "sisipan" itu berkembang hingga sempat mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Menjelang Jepang tiba di Bengkulu, Belanda mengangkut Soekarno dan keluarganya untuk dibawa ke Australia. Ketika itu, Soekarno berujar pada Inggit, "Keadaan ini di luar dugaanku."

"Keadaan yang mana, Jepang (masuk Indonesia) atau perempuan itu," sahut Inggit. Dalam hal ini, penonton pun sama bingungnya dengan Inggit.

Soekarno batal diangkut ke Australia karena Jepang keburu menguasai Sumatera. Di sini, pembantaian Belanda oleh serdadu Jepang, penjarahan warga keturunan China dan Belanda, dengan cepat dimasukkan dalam konteks cerita.

Jepang menekan dan memanfaatkan Soekarno. Untuk melindungi rakyat dari kekejaman Jepang, Soekarno memilih bekerja sama. Agar gadis-gadis tak diculik dan diperkosa, ia berinisiatif mendatangkan pekerja seks. Soekarno bahkan menunggui dan mendengar jeritan para perempuan itu dilahap serdadu Jepang.

Di bagian lain, ia pun berusaha tersenyum ketika diminta berpose dalam pemotretan propaganda Jepang. Padahal, di saat yang sama, ia menyaksikan Romusha disiksa.

Hanung rupanya memilih visualisasi yang pedih—dan vulgar—ini untuk menggambarkan konflik batin Soekarno.

Romantika
Kembali ke Jakarta, peran Soekarno dalam pergerakan kemerdekaan menguat. Namun, pada saat yang sama, penonton disuguhi karakter Soekarno yang sama sekali berbeda. Cerita bercabang pada cinta segitiga Soekarno-Inggit-Fatmawati.

Tatapan Soekarno kosong ketika bersama Hatta (Lukman Sardi) menunggu pertemuan dengan petinggi Jepang. Disambung adegan pertengkaran Fatma dengan orangtuanya soal Soekarno. Lalu, Inggit menemukan surat Fatma yang meminta kepastian dari pujaan hatinya.

Kemudian, seusai pertemuan dengan Jepang, Soekarno tertinggal di belakang rekan-rekannya, terduduk di bangku taman dengan pandangan kosong. Tak terhindarkan, penonton mendapatkan kesan betapa galau hati Soekarno—bahkan saat berada di medan perjuangan politik—karena konflik percintaannya.

Apabila kesan yang mengganggu ini disingkirkan, sebenarnya pergerakan pemuda dipetakan cukup baik di sini. Kemerdekaan bukan perjuangan satu orang atau satu golongan. Ketidaksukaan pada lawan politik juga bukan berarti bersikap tak menghargai. Relasi Soekarno-Hatta-Syahrir menggambarkan itu.

"Seorang, dua orang, bahkan tiga orang Syahrir tidak akan cukup menggantikan mereka (Soekarno-Hatta)," ujar Syahrir, yang kerap memosisikan diri berseberangan dengan Soekarno.

Pesan tentang kemandirian sebagai bangsa merupakan wacana besar yang membutuhkan dialog intens dan terjaga sepanjang alur yang ketat. Dengan begitu, pesan ini tak sekadar jadi "tempelan" di sana-sini. (NUR HIDAYATI)